11 Guru SMKN 1 Tinangkung Unjukrasa Keliling Kota

BANGKEP – Sekitar 11 guru SMKN 1 Tinangkung Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) melakukan aksi unjukrasa memprotes kebijakan kepala sekolah. Meski hanya belasan orang, aksi para guru itu membuat heboh masyarakat di Salakan, pasalnya mereka menggunakan pengeras suara yang besar yang biasa digunakan pada acara pesta pernikahan.

Para guru berunjuk rasa mengelilingi kota Salakan, dari lapangan Trikora menuju bundaran rumah jabatan bupati dan menuju jalur dua perkantoran dinas sampai di depan gedung DPRD Bangkep.

Isu yang disampaikan adalah memprotes gaya kepemimpinan kepala sekolah yang dinilainya tirani, sampai menghembuskan isu kepala sekolah pilih kasih terhadap guru di sekolah. Bahkan isu penggunaan dana BOS juga dilontarkan guru yang menilai kepala sekolah tidak transparan. 11 guru itu juga menandatangani pernyataan sikap dan menyatakan mogok mengajar.

Dalam unjukrasa itu, meski hanya sedikit jumlahnya, tapi tetap mendapat pengawalan dari aparat kepolisian Polres Bangkep. Untuk mengawal 11 orang, Polisi menerjunkan sekurang-kurangnya 50 personel dari Sabhara sampai intel.

Sementara proses belajar mengajar di SMKN 1 Tinangkung tetap berjalan lancar. Saat wartawan koran ini berkunjung ke SMKN 1 Tinangkung, terpantau proses belajar mengajar seolah tidak terpengaruh dengan aksi unjukrasa 11 guru tersebut.

Salah seorang siswi yang ditanya wartawan ini, mengaku tetap ikut pelajaran di kelas dan tidak ada istilah libur. “Ada guru yang mengajar, tadi saya ikut pelajaran. Saat ini jam istirahat,” jelas siswi tersebut.

Sementara Kepala SMKN 1 Tinangkung, Baharuddin Saidia mengaku proses belajar mengajar tetap lancar, karena tidak semua guru ikut demo. “Lebih banyak yang memilih mengajar,” jelasnya saat dimintai tanggapannya atas aksi unjukrasa tersebut.

Menurutnya, 11 guru yang ikut demo adalah mereka yang tidak disiplin mengikuti ketentuan sekolah. Baik itu datang ke sekolah terlambat, maupun izin tidak ada surat keterangan. “Kita juga harus menerapkan peraturan yang sama kepada semua guru. Kalau datangnya jam tujuh, maka datang jam tujuh. Ada guru yang mengikuti peraturan, masa yang lainnya tidak,” jelasnya.

Bahkan, katanya karena persoalan sepele itu, Sekkab Bangkep sempat turun tangan memediasi. Dari hasil mediasi, guru-guru harus kembali mengajar dan mengikuti tata tertib sekolah. “Dari kesepakatan yang dimediasi Pak Sekda, mereka lawan. Pak Sekda saja dilawan, apalagi saya,” jelasnya.

Baharuddin mengatakan, kebijakan yang dijalankannya adalah kebijakan untuk memajukan sekolah. Selama kepemimpinannya, SMKN 1 Tinangkung menjadi sekolah yang diminati. “Dari sekolah yang dulunya dikenal sebagai sekolah di tengah hutan, kini sudah mulai ada fasilitasnya. Dari gedung bulutangkis, musala, dan juga gedung untuk belajar. Baru-baru ini, ada bantuan 27 unit Laptop dari Kementerian Dikbud yang anggarannya dari APBN,” jelasnya.

Baharuddin mengajak semua kalangan guru berpikir untuk maju dan mengutamakan tugasnya sebagai guru. Guru adalah contoh dari muridnya secara langsung. “Kalau guru tidak taat aturan, bagaimana bisa sekolah mau maju,” tandasnya.(bar)

Sumber: radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button