Bea Cukai Amankan Tiga Kapal Berbendera Malaysia

PALU – Kapal patroli Bea Cukai yang beroperasi di daerah Laut Sulawesi, pekan lalu berhasil menangkap tiga kapal berbendera Malaysia. Tiga kapal tersebut terpaksa ditangkap, karena sedang melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah perairan Indonesia. Kapal yang berbendera Malaysia itu, diduga mencoba memasuki wilayah perairan Indonesia. Kapal-kapal tersebut, saat ini telah ditahan di Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai Tipe B Pantoloan di Jalan Tanainolo Kelurahan Baiya Kecamatan Tawaeli.

Sumber menyebutkan bahwa ketiga kapal tersebut, ditangkap di sekitar wilayah Tarakan Kalimantan Utara. Penangkapan dilakukan armada patroli Bea Cukai, yang kebetulan saat itu sedang melakukan operasi laut di wilayah Perairan Laut Sulawesi.

“Informasinya memang seperti itu. Untuk lebih detilnya coba tanyakan ke Kantor Bea Cukai, atau ke Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng,”kata Sumber.

Kenapa harus konfirmasi ke Dinas Kelautan dan Perikanan? Menurut sumber, walaupun yang menangkap adalah patroli Bea Cukai, namun kapal yang ditangkap tersebut pelanggaran yang dilakukannya lebih pada UU Perikanan, bukan UU Kepabeanan yang merupakan Tupoksi Bea Cukai.

Menurut sumber lagi, ada tiga kapal yang ditangkap dengan Gross Tonase yang hampir sama. Katanya, dari tiga kapal yang ditangkap itu, ada beberapa ABK yang diamankan. Dari ABK yang ditangkap itu, bukan hanya warga Negara Malaysia, tapi ada beberapa di antaranya adalah warga negara Filipina.

“Secara pastinya, berapa yang warga negara Malaysia dan berapa yang warga negara Filipina, coba tanya ke kantor Bea Cukai atau Dinas Kelautan dan Perikanan,”kata sumber lagi.

Sementara itu, kantor Bea Cukai yang coba dikonfirmasi, masih enggan memberikan informasi. Saat media ini berusaha untuk mendatangi langsung kantor Bea Cukai di Pantoloan pada Jumat (20/3), salah seorang staf yang ditemui, mengaku tidak tahu-menahu adanya penangkapan kapal berbendera Malaysia. Begitu pun ketika media ini meminta izin untuk bertemu dengan pimpinannya, staf tersebut tampak bersikap enggan.

Beberapa kali mencoba mendapatkan konfirmasi mengenai penangkapan kapal Malaysia tersebut. Namun saat didatangi di kantornya, pihak sekuriti Kantor Bea Cukai, melarang awak media untuk masuk ke dalam kantornya, apalagi diperkenankan bertemu dengan pimpinannya. Mereka beralasan, telah mendapat instruksi dari atasannya, bahwa akan ada waktunya untuk pers memperoleh informasi.

“Kalau bapak (wartawan, red.) tetap berkeras bisa masuk ke dalam (kantor, red), kami akan mendapat teguran. Menurut atasan kami, karena nanti akan ada juga waktunya, wartawan diundang untuk diberikan informasinya, seperti sebelum-sebelumnya,” kata sekuriti tersebut.

Namun diperoleh informasi, kapal yang berasal dari Malaysia tersebut, tiba di Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai Tipe B Pantoloan di Jalan Tanainolo Kelurahan Baiya Kecamatan Tawaeli sekitar pukul 07.00 Jumat pagi. Kapal-kapal tersebut hanya memuat beberapa awak kapal saja.

“Sekitar jam-jam 07.00 pagi tadi, memang kapalnya tiba. Sekarang masih tengah dalam proses penyelidikan petugas di dalam. Jadi kalau untuk informasi nanti ada waktunya dipanggil semua wartawan. Kalau sekarang ini bisa-bisa hanya kami yang kena teguran dari atasan,” terang sekuriti, saat ditemui Jumat pagi (20/3) sekitar pukul 10.15.

Ketika berusaha untuk meminta konfirmasi terkait dengan penangkapan kapal berbendara Malaysia tersebut, dengan salah satu staf yang bekerja pada Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai Tipe B Pantoloan. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil, karena staf tersebut, mengaku tidak mengetahui bahwa telah ada penangkapan kapal asing oleh petugas Bea Cukai Pangkalan Sarana Operasi Tipe B Pantoloan.

Sementara itu, pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, juga tampak masih “malu-malu” memberikan informasi terkait penangkapan Kapal berbendera Malaysia tersebut.

Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Yunber Bamba APi MSi, dikonfirmasi Minggu kemarin (22/3), awalnya enggan untuk memberikan konfirmasi. Namun setelah disodorkan beberapa informasi, Kepala Bidang yang juga membawahi Seksi Pengawasan ini, akhirnya membenarkan adanya penangkapan kapal Malaysia.

“Tapi untuk saat ini, kasusnya belum diserahkan ke kami (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, red). Sebenarnya, kita ada komitmen dengan Bea Cukai, untuk ekspos kasusnya kemungkinan Selasa (besok, red) atau Rabu. Tapi kalau teman-teman media sudah dapat info lapangan, saya hanya sekadar membenarkan saja dulu. Untuk data lebih detilnya, kami belum berhak menyampaikan,”kata Yunber Bamba.

Ditanya jenis pelanggaran kapal tersebut, sehingga harus diserahkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan, menurut Yunber, berdasarkan informasi tim yang telah melakukan koordinasi dengan Bea Cukai, kapal-kapal berbendera Malaysia tersebut, diduga melakukan pelanggaran UU Kelautan dan Perikanan.

“Lagi-lagi untuk informasi detil dan kronologis penangkapannya, saya belum tahu, karena memang belum diserahkan ke kami. Mohon teman-teman media bersabar, karena kami pun masih belum menerima informasi penuh, karena kasusnya masih di kantor Bea Cukai Palu,”kata Yunber Bamba lagi.

Ditanya lagi soal status warganegara ABK, Yunber juga mengaku belum mengetahuinya secara persis. Namun demikian menurut Yunber Bamba, bahwa saat ini sudah ada tim, khususnya Penyidik PNS di lingkup Dinas Kelautan dan Perikanan yang telah turun melakukan koordinasi dengan Kantor Bea Cukai.

Namun lagi-lagi Yunber Bamba enggan membeberkan hasil koordinasi PPNS Dinas Kelautan dan Perikanan tersebut, dengan alasan telah ada komitmen dengan Kantor Bea Cukai, bahwa kasus penangkapan kapal tersebut, baru akan diekspos Selasa besok atau Rabu (25/3).(cr7)

Sumber: Radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button