Bupati Buol Lapor Amat Entedaim ke Polda

PALU – Hari ini, Senin (23/2), Bupati Buol dr Amirudin Rauf SPOG MSi akan melaporkan Amat Entedaim SH, seorang pengacara dan pemimpin sebuah asosiasi pengacara Kota Palu ke Polda Sulteng, terkait pernyataan Amat Entedaim di harian Radar Sulteng edisi Kamis (19/2). Yang menduga Bupati Buol telah melakukan konspirasi dalam sebuah pertemuan dengan bos besar PT Cipta Cakra Murdaya (PT CCM) Group, Murdaya Poo, di Jakarta, pada Desember tahun 2014 lalu.

Pernyataan Amat Entedaim, yang menyebutkan adanya pertemuan tak biasa antara Bupati Buol Amirudin Rauf dengan Murdaya Poo, yang diduga membahas hasil panen di luar HGU, kemudian berujung pada dugaan permintaan fee itulah yang akan dilaporkan Bupati Buol Amirudin Rauf ke Polda Sulteng.

“Saya akan melaporkan Amat Entedaim pada hari Senin nanti (hari ini, red) di Polda Sulteng, dan setelah itu kami akan menggelar konfrensi pers dengan wartawan, “ kata Amirudin Rauf, saat menghubungi media ini, Sabtu (21/2).

Sementara itu, Amat Entedaim, yang dikonfirmasi, Minggu kemarin (22/2), terkait rencana Bupati Amirudin Rauf yang akan melaporkan dirinya ke Polda Sulteng, mengatakan, silahkan saja bupati menempuh jalur hukum, bila merasa tersinggung dengan pernyataan kritisnya tersebut. “Tidak apa-apa, silahkan saja pak bupati menempuh jalur hukum. Justru ini baik bagi saya, dan baik bagi seluruh masyarakat Sulteng, agar di depan aparat hukum atau di pengadilan sekalipun, semakin banyak yang terungkap di balik misteri pertemuan itu. Sekaligus melihat, siapa sesungguhnya yang benar, “ ujar Amat.

Ia juga mengatakan, setelah dirinya dilapor di Polda, dia masih akan melakukan langkah-langkah berikutnya. Salah satunya langkah itu, ia akan melaporkan Bupati Buol ke KPK. “ Saya setelah dilapor di Polda, juga akan berangkat ke Jakarta ke gedung KPK, untuk melakukan upaya legal standing ke KPK, melapor secara tertulis dan memberikan data-data faktual tentang adanya kasus tindakan korupsi (gratifikasi, red) yang dilakukan Bupati Buol saat ini, “ papar Amat.

Amat kembali menjelaskan, pertemuan yang terjadi antara Bupati Amirudin Rauf dengan Murdaya Poo, diduga kuat sebagai upaya “meminta jatah” fee dari hasil panen PT Hardaya Inti Plantation (PT HIP) anak perusahaan PT CCM di Buol, yang berada di luar HGU seluas 4.500 hektar kepada Murdaya Poo. Hasil panen, terang Amat, cukup wah, sekali panen bisa mencapai keuntungan Rp 8 miliar hingga Rp 9 miliar. Inilah yang dia duga dikejar oleh Bupati Buol. “Saya menduga, pertemuan itu sebagai upaya untuk meminta jatah fee hasil panen PT HIP, yang berada di luar HGU, “ duganya, kepada koran ini, Rabu pekan lalu (18/2).

Dijelaskan Amat, panen yang berada diluar HGU itu sebenarnya sebuah keuntungan “haram” bagi siapa saja yang menerimanya, baik bagi perusahaan PT HIP (PT CCM Group) maupun pihak lain, yang coba-coba ingin mengambil hasil panennya. Sebab, wilayah di luar HGU, bukanlah wilayah yang diizinkan pemerintah, karena itu menikmati hasil produksinya dikategorikan sebagai pelanggaran, dan mesti mendapat hukuman sesuai undang-undang yang berlaku, termasuk undang-undang tindak pidana korupsi (tipikor). “Pertemuan tak lazim antara Bupati Buol dengan Murdaya Poo, di luar protokoler, dalam sebuah hotel. Secara etika, seharusnya tidak bisa dilakukan. Apalagi pertemuan itu dilakukan bukan di kantor Bupati, tetapi di hotel di Jakarta, “ tambahnya. (mch)

Sumber: Radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button