Trending

Catatan Ringan pada Dies Natalis ke-57 FKIP


Ruang Virtual, Penyelamat Tsunami Pembelajaran

Satu di antara 11 fakultas yang ada di lingkungan Universitas Tadulako adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Fakultas ini memiliki tugas pokok dan fungsi dalam melahirkan calon-calon guru, baik untuk jenjang TK, SD, SLTP, maupun SLTA yang akan menjadi tulang punggung dalam mengantarkan peserta didik di jenjang sekolahnya masing-masing. Keberadaan FKIP, dipastikan selain menjadi ruang yang mengendalikan proses pembentukan tenaga-tenaga muda calon guru, di sana pula akan terbentuk performa betapa ekspektasi masyarakat akan terukur. Ini artnya, FKIP adalah indikator. Lemah dan kuatnya proses di sana, akan mengindikasikan kokoh tidaknya institusi dan tenaga dosen yang menjadi advisor sekaligu fasilitator. Kinerja input memang tidak seragam karena peserta didik berasal dari SLTA yang memiliki varian yang tinggi. Derajat mereka memang sama karena lulusan SLTA, yang dalam Perpres Nomor 08 Tahun 2013 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), ditempatkan pada level 2. Baik yang berasal dari SMK maupun dari SMU.

FKIP

Perbedaan kapasitas dalam level yang sama, bukan hal yang perlu dipertentangkan. Level adalah angka, sementara kapasitas adalah berdimensi kualitatif. Faktor intrapersonal dan ekstrapersonal adalah yang dominan membentuk mereka hingga akhirnya berhasil menduduki level 6 dalam KKNI. Hanya saja, perlu ada pemahaman bahwa ekstrapersonal ikut menjadi penentu bagi calon input FKIP. Bisa saja sama-sama SMA Negeri 1 namun wilayah yang berbeda akan menentukan lingkungan dan suasana yang bereda. Perbedaan ini dapat melahirkan kesamaan, sekaligus disparitas yang tergambar dalam kapasitas mereka saat di mana output SLTA menjadi input pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sebagai tempat proses, FKIP tidak dapat menghindar dari tanggung jawab penggodokan agar keberagaman input dapat diminimalkan disparitas antarmahasiswa di saat menjadi output FKIP. Kerja keras Dosen FKIP inilah menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab berat yang diembanya. Harapan dari ending proses yang berjalan adalah lahirnya lulusan yang memiliki komptensi akademik yang tidak berbeda jauh.

Implementasi tanggung jawab seorang dosen termasuk layanan lainnya dari unsur pimpinan, adalah sebuah keniscayaan. Bahwa terjadi pergeseran kultur dalam pembelajaran, sangat mendesak dengan harapan agar dosen-dosen mempersiapkan diri dalam bergeser dari posisi awal menyikapi derasnya tiupan angin fleksibilitas yang terjadi. Teknik dan pola pembelajaran, telah mengalami evolusi yang luar biasa. Bahkan bukan evolusi gradual, melainkan revolusi eksponensial. Andai teknik pembelajaran adalah tsunami instrumen, maka dosen yang tidak membaca tanda-tanda dan peringatan mitigasi perubahan, akan tersapuh bersih oleh tsunami metamorfosis. Memang terkadang ada tiga kelompok dosen yang ada di atas permukaan bumi, di manapun menjalankan tugas pengabdiannya. Tetapi khusus di FKIP, kelompok ini harusnya tidak boleh ada. Mengapa? Sebab Dosen adalah tali temali layangan yang tak boleh mengenal kata “terputus”. Risiko yang ditimbulkan akan mengalir pada peserta didik di jenjang TK, SD, SLTP dan SLTA, sebagai produsen sekaligus penerima input sesuai dengan jenjang berikutnya. Karena itu, berani membiarkan ada kelompok lain yang tak peduli pada putusnya tali layangan, maka dampaknya akan terasa 10 tahun di etape berikutnya.

Dosen fakultas di luar FKIP, boleh saja membagi diri dalam tiga kelompok. Yang pertama, sadar generasinya adalah penerus dalam mengemban kompetensi utama sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Kelompok kedua, menjalankan tugas tanpa menjaga stabilitas keilmuan dengan asumis mereka akan bekerja secara mandiri tanpa ada risiko-risko jangka panjang. Dan kelompok ketiga, menjalankan tugas sesuai jadwal tanpa ada pemahaman proses namun tekun dalam mengisi waktu sesuai sistem pembelajaran yang dijalaninya. Di sinilah mengapa sangat berbeda dengan dosen di FKIP yang diharapkan tidak membangun atau tidak terbangun kelompok. Kondisi uniform dalam pembelajaran harus dikawal karena yang dilepas dari FKIP adalah tali temali yang tetap akan membawa marwah keguruan sekaligus penerus dalam mencerdaskan generasi pada jenjang TK sampai SLTA. Inilah penciri utama proses Pendidikan di FKIP yang tidak bisa terlupakan apalagi sengaja dilupakan. Bidang Non-Keguruan tidak menjadi tali temali mengingat marwah pendidikannya tidak bertemali sehingga memiliki potensi polarisasi.

Berdasar konteks itulah, Dosen dan Institusi FKIP memiliki warna yang berbeda dibandingkan dengan bidang nonkeguruan. Institusi kependidikan tersebut, berada dalam frame yang utuh dan bersiklus sejak Pendidikan TK-SD-SLTP-SLTA-FKIP-Output-TK-SD-SLTP-SLTA-Output-FKIP dan seterusnya. Jika ini tidak dipahami atau dipahami tetapi tidak dijaga, maka akan ada tali temali layangan yang akan terputus. Begitu terputus, maka layangannya akan jatuh bukan pada kuadran yang diinginkan melainkan kekuatan tiupan dan arah angin yang berhembus. FKIP Untad kini telah berada pada tapak usia 57 tahun. Jika FKIP diandaikan kamar, maka rumah besarnya bernama Universitas Tadulako dibangun di saat sejumlah kamar butuh dinding penyatu agar sesama penghuni kamar berada dalam bimbingan orangtua yang menempati rumah besar. Begitu dewasanya FKIP, wajar bila menjadi kakak yang selalu memberi bimbingan dan kasih sayang bagi fakultas lain melalui Pekerti (Peningkatan Keterampilan Instruksional) dan AA (Applied Approach) atau Ancangan Pembelajaran. Inilah juga menjadi tali temali yang mengokohkan antara fakultas kakak terhadap fakultas adik-adiknya. Mungkin ini bagian dari janji dalam menjaga marwah Satu Untad-Satu Napas-Satu Keluarga. Dalam suasana Bahagia ini, 10 adik fakultas dan Pascasarjana kompak dalam ucapan “ Selamat Dies Natalias ke-57 senior”, semoga Pandemic Covid-19 cepat berlalu dan kita bisa dipersatukan dalam kampus tercinta Universitas Tadulako setelah salam jabat selama ini hanya lewat Virtual—suatu ruang yang menyelamatkan kita dari tsunami pembelajaran. FKIP Kuat, Untad Maju, Bangsa Bersukacita.

(Muh. Basir Cyio, 13/09/2021)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button