Forum Keluarga Sintuwu Maroso dan Pangkalan Ojek Tondo Kirim Surat ke Prof Djayani Nurdin

Forum Keluarga Sintuwu Maroso dan Keluarga Pangkalan Ojek Tondo Ngapa mengirim surat yang ditujukan kepada Prof Djayani Nurdin selaku Ketua Kelompok Peduli Kampus (KPK). Surat itu berisi tentang ajakan menjaga kedamaian terutama bagi Prof Djayani Nurdin sebagai motor Kelompok Peduli Kampus (KPK) yang belakangan ini sering membuat kegaduhan dengan ucapan dan pernyataan di media yang cenderung tidak etis, provokatif, menebar fitnah dan kebencian di media online.

“Pernyataan provokatif dan tidak etis itu sudah ada sama kami yang isinya sangat miris,” kata Dhanu.

Surat dari Forum Sintuwu Maroso dan Keluarga Pangkalan Ojek Tondo Ngapa
Surat dari Forum Sintuwu Maroso dan Keluarga Pangkalan Ojek Tondo Ngapa

Dalam surat yang ditandatangani oleh P Lino dan Dhanu, Ketua dan Sekertaris Pangkalan Ojek Tondo dan Anggota Forum Keluarga Sintuwu Maroso, menyesalkan tindakan Djayani Nurdin dan kelompoknya yang sudah menghina dan menyerang pribadi mantan Rektor Untad. Forum Sintuwu Maroso Tondo menyatakan menyesalkan tindakan itu karena perhatian Prof Basir Cyio saat menjadi Rektor sangat besar bagi masyarakat di lingkungan sekitar kampus.

“Bahkan ada anak petani dari Vatutela dan anak tukang ojek dari Tondo yang sekarang telah menjadi dokter karena perjuangan beliau sehingga anak-anak kami mendapat beasiswa. Juga perjuangan Beliau yang memperhatikan anak-anak kami sehingga bisa berkuliah,” urainya dalam surat tersebut.

Dalam surat itu dituliskan bahwa pihak ya sangat mengharapkan agar Djayani Nurdin dan kelompoknya dapat menunjukkan cara yang beretika sehingga cara-cara yang tidak lazim yang dipertontonkan dengan menjelek-jelekkan mantan Rektor Dapat dihentikan. “Jangan karena gagal atau mau maju menjadi calon Rektor atau mau mengusung calon Rektor, lalu mantan Rektor Untad yang diserang pribadinya. Jangan menghalalkan cara tidak etis yang tidak menunjukkan ketinggian sekolah kalian,” tegas Lino dalam surat Forum Sintuwu Maroso itu.

Kami juga mengingatkan Djayani Nurdin bahwa surat yang dikirim itu adalah surat pertama, tetapi tidak akan pernah ada surat kedua lagi. Untuk itu pihaknya menulis dalam surat itu dengan memohon agar Djayani Nurdin dan kelompoknya jangan memancing kekeruhan, tapi mari kita menumbuhkan sikap dan rasa saling menghargai. “Kami ini tidak tinggi sekolahnya seperti Bapak Djayani dan kawan-kawannya. Sekali lagi kami ingatkan baik-baik agar berhenti menghina dan menyerang pribadi. Namun mohon maaf, jika sudah kami ingatkan dari lubuk hati yang paling dalam, tetapi masih dilakukan, kami akan memikirkan cara yang terbaik untuk kami tempuh,” tegas Dhanu dalam suratnya.

Terkait dengan surat itu, Dhanu menyatakan bahwa pada Sabtu (11/9) malam, surat tersebut telah diantar oleh empat warga Tondo ke rumah Prof Djayani Nurdin. “Tapi tidak ada yang mau buka pintu. Jadi suratnya dititip pada mahasiswa yang berada di kos-kosan dalam pagar rumah utama,” tutup Dhanu. (ss03/ss05/ss10)

Related Articles

Back to top button