Hidup itu Indah Jika Kita Paham Lika-Liku Kehidupan

Bahagia dan Galau, bukan karena Orang Lain tapi ada dalam Diri Sendiri

———

Perjalanan Panjang Prof Dr Ir Muhammd Basir Cyio, SE. MS. IPU. Asean Eng, dalam organisasi perguruan tinggi, termasuk pengalamannya sebagai pengurus organisasi Wartawan PWI, plus keterlibatannya dalam aktivitas akademik, baik Penelitian maupun penulisan artikel pada jurnal Internasional bereputasi, membuat Ketua Senat Akademik ini semakin memahami arti sebuah kehidupan.

Atas pengalaman panjangnya dalam berbagai aktivitas, Media Suara Sulteng (SS) berkesempatan untuk mewawancarainya terkait dengan hakikat kehidupan. Petikan Wawancaranya disajikan dalam “gaya bertutur saya”.

Suara Sulteng (SS)
Anda pernah mendapat amanah di institusi Universitas Tadulako sejak kembali menempuh Pendidikan Doktoral di Universitas Padjadjaran Bandung. Anda boleh menjelaskan apa saja amanah itu?
Basir Cyio (BC)
Begini, hidup itu kita yang memberinya makna dan kita pula membuatnya tidak bermakna di mata orang lain. Khusus di mata orang lain, kita jangan sekali-kali membiasakan risau atau galau dalam berkehidupan. Kenapa? Sebab tidak mungkin semua orang senang dengan kita namun yakin pula, tidak mungkin semua orang membenci kita. Inilai dimensi keberimbangan dalam hidup. Ketika tahun 1999-2002, Pak Rektor almarhum Drs H Mohammad Rasyid MS mempercayakan saya sebagai Sekretaris Lembaga Penelitian saya dinyatakan belum layak. Syarat menjadi sekretaris Lembaga golongan minimal IV/b karena jabatan struktural. Golongan saya kala itu, baru III/c. Selama kurang lebih 3 tahunan, saya tidak diberi tunjangan. Saya kecewa? Tidak! Karena harus tahu diri. Saya belum memenuhi syarat. Saya jadikan posisi itu adalah belajar bekerja tanpa harus ada tunjangan. Nikmat juga karena saya belajar untuk tidak galau karena tunjangan. Lalu adakah yang tidak senang? Banyak, karena dianggap terlalu cepat saya diberi posisi. Mereka tidak tahu posisi itu adalah tempat belajar untuk tidak risau karena tidak ada tunjangan. Saya Bahagia, karena orang lain risau karena saya, sementara saya tidak pernah risau karena kerisauan orang lain.

Suara Sulteng (SS)
Lalu selepas sebagai Sekretaris Lemlit, tempat belajar membangun ketidakrisauan, kemana lagi?
Basir Cyio (BC)
Alhamdulillah, ada dorongan teman-teman agar saya mencalonkan diri sebagai Pembantu Dekan I Faperta. Banyak lagi yang risau melihat saya. Saya semakin tenang karena sudah saya lewati Bab I untuk belajar tidak risau di posisi Sekretaris Lemlit. Syukur, saya terpilih karena saat itu Pembantu Dekan juga dipilih oleh senat, sama seperti dengan dekan. Seusai Pembantu Dekan I, saya dibisik teman, lanjutkan perjuangan Pak Dekan (kala itu Ir H Abdullah Naser MP). Semakin banyak pengalaman yang kami timbah. Waktu penyampaian visi misi sebagai calon dekan, dari empat teman bersanding (calon lain), semuanya menyampaikan Visi Misi soal Iman dan Taqwa (Imtaq). Saya sendiri tidak mau menjual soal Imtaq untuk dapat simpati dari anggota senat Faperta. Saya malah mengatakan, saya mungkin yang paling banyak noda, nokta, dan kelemahan. Bahkan jika diisi ke dalam CD, sampai 10 juga belum cukup. Karena itu, jika bapak ibu anggota senat tidak yakin dengan say ajika dikaitkan dengan Imtaq, mohon jangan memilih saya. Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati beliau-beliau hingga akhirnya terpilih sebagai dekan periode 2007-2011. Setelah itu, Allah membukakan pintu untuk masuk bursa Calon Rektor. Banyak yang musuh? Banyak, tapi banyak juga yang tidak musuh. Lagi-lagi semakin banyak pembelajaran hidup yang saya dapatkan. Dalam Pilrek, Allah kembali gerakkan hatinya Sebagian besar anggota senat hingga akhirnya dilantik sebagai Rektor 2011-2015. Berlanjut 2015-2019. Ada yang benci? Banyak tapi saya tidak pernah benci mereka karena yang ingin menjalani hari-hari saya saya dengan tenang. Bernci orang berjalan, Bahagia saya juga berjalan. Bagaimana saat didemo? Saya yakin, tidak mungkin ada orang demo selama 6 bulan berturut-turut. Toh pada akhrnya akan berhenti juga. Kebencian berlanjut. Ada yang lapor ke KPK, Kejagung, Kapolri, Kapolda, dan Kajati, bahkan ke Presiden, itu juga adalah pembelajaran berharga. Itulah kehidupan nyata di atas bumi. Jika tidak mau ada yang benci, jangan jadi siapa-siapa, dan pilih masuk hutan belantara. Tapi pasti akan diterkam oleh macan tutul dan ular kobra. Dari pada masuk hutan, lebih baik bertahan di luar hutan karena yang benci saya tidak mungkin menerkam. Tidak mungkin juga melilit saya. Jika mereka karena satu dan lain hal lalu membenci saya, maka saya tidak akan memberi mereka. Kenapa? Karena membeci orang lain itu butuh energi yang besar. Kumpul-kumpul membangun kebencian butuh biaya di café-café. Belum lagi sulit tidur nyenyak dan nafsuh makan juga menurun. Dari pada kita ikut-ikutan menderita, lebih baik kita biarkan mereka membenci kita dan kita jangan pernah membeci mereka. Inilah pangkal kebahagiaan yang hakiki.

Suara Sulteng (SS)
Apakah Anda tidak galau kalau dimuat di berbagai media? Dan Mengapa tidak pernah membantah setiap ada pemberitaan? Sebab kelihatannya seperti tidak akan ada akhirnya?
Basir Cyio (BC)
Galau itu artinya sama dengan menodai kebahagiaan. Jangan pernah kotori kebahagiaan yang Allah berikan dengan cara galau dan risau. Bahwa orang mau tulis kita di media, biarkan saja.Jika ada media memuat pandangan mereka yang benci kita setiap hari, biarkan. Jangan kita halangi apa saja yang mereka mau lakukan. Mau menulis apa saja terserah, karena itu hak mereka. Jikapun mereka menulis tidak benar, tidak akan saya pikirkan, apalagi membacanya. Intinya jsaya tidak akan risau di saat orang lain risau melihat saya. Lalu siapa bila yang demikian itu seperti itu tidak akan ada akhirnya? Pasti ada akhrnya.

Suara Sulteng (SS)
Dari mana Anda bisa tahu bahwa akan ada akhirnya? Sementara orang yang membenci Anda terkesan tiap hari mencari kelemahan dan kekurangan Anda?
Basir Cyio (BC)
Kita mestinya bersyukur jika ada orang yang sibuk mencari kelemahan dan kekurangan kita. Artinya, saya tinggal menerima dan memperbaiki jika beliau-beliau mengumpulkan kekurangan dan kelemahan saya. Kita bersyukur, beliau-beliau menguras tenaga, pikiran dan juga waktu, untuk membantu saya mencarikan apa yang harus saya diperbaiki. Bahwa kenapa saya yakin semua akan berakhir, karena manusia dibatasi oleh putaran waktu. Ketika saya masih Golongan III/a saya melihat ada dua kelompok perilaku dosen yang dihadapi oleh Prof Mattulada dan Prof Musyi Amal. Ada yang berhati sejuk dan senang memberi masukan dan jalan keluar jika Pak Rektor ada kekeliruan. Tetapi ada juga yang senang membrontak, memaki sahabat kampus sendiri, dan juga mendeskreditkan rektor atau dekan. Sebagai dosen yang masih muda kala itu, saya sempat juga tegang-tegang. Tetapi seiring dengan waktu, saya menyaksikan satu per satu yang suka membrontak dan senang membuat kegaduhan kampus, mulai hilang satu per satu. Bahkan yang saya saksikan sebagai pembuat kegaduhan tahun 2000an, kini semua sudah kembali ke pangkuan Allah SWT. Saat mereka masih senang membuat gaduh, saya berpikir sampai kapan mereka akan berbuat begitu? Ternyata, sekuat apapun ototnya manusia untuk membuat kegaduhan, pada akhirnya juga akan selesai. Lalu apakah kampus akan tenang dengan wafatnya mereka yang pernah menjadi sumber kegaduhan? Jawabnya tidak, karena orang baik itu patah tumbuh hilang berganti. Yang penggaduh dan pembenci juga demikian. Patah tumbuh hilang berganti. Pertanyaannya, siapa yang akah berakhir? Orangnyakah? Atau Keadaannya? Jawabnya, keadaan akan tetap ada karena itu adalah dinamika kehidupan. Tetapi orangnya pasti akan berakhir. Orang yang saati ni senang membuat kegaduhan, dan usia mereka sudah 55 tahun ke atas, pastikan, 35 tahun mendatang, yang bersangkutan mulai rabun penglihatannya, lututnya sudah sulit berdiri tegak dan mungkin juga sudah mulai pikun. Itu kalau Panjang umur hingga usia 89 tahun. Jadi, yang sudak membuat gaduh saat ini, akan hilang 35 tahun ke mudian. Dan tentu akan muncul, mungkin dari mereka yang saat ini Golongan III/b, 20 tahun mendatang mereka ini ada yang menjadi pembuat gaduh. Akan menjadi pemaki-maki rektornya, dan mungkin juga akan merusak faslitas kampus. Setelah itu, mereka akan meninggal, dan akan ada lagi penerusnya. Penerus dosen yang berhati mulia dan penerus dosen yang senang membuat kegaduhan dan kebencian, akan tetap mengalami regenerasi dengan situasi yang berbeda sesuai dengan peradabannya masing-masing. Nanti, yang akan mendaftar sebagai CPNS tahun 2025, mungkin ada yang akan menjadi pembrontak tahun 2040 mendatang. Jadi, saya yakin jika yang saat ini ada yang senang membuat kegaduhan dalam usia 55-60 tahun, maka jika pun masih Panjang umurnya 20 tahun ke depan, mungkin sudah tidak bisa membedakan mana cucunya dan mana cucu tetangga. Artinya, saya tidak akan galau dan risau jika ada yang memaki-maki saya. Ada yang benci dan dengki saya. Kita biarkan, sampai akhirnya semua berakhir.

Suara Sulteng (SS)
Berarti Anda tidak akan pernah keberatan apapun yang dilakukan oknum-oknum yang sedang membenci Anda?
Basir Cyio (SS)
Sama sekali tidak akan membenci. Membenci orang, itu sama dengan membuang 50 persen kebahagiaan yang Allah berikan. Bahwa mereka menjadi komunitas yang tidak Bahagia karena siang malam memikirkan saya, itu kembali kepada cara berpikir dan menjalani lika liku kehidupan masing-masing. Saya percaya, kebahagiaan setiap orang ada pada kemampuannya mengelola kehidupan. Bukan sejauh mana kegaduhan yang ada di sekitar kita. Artinya, saya bersyukur kepada Allah karena semakin banyak yang membenci semakin mematangkan hidup ini untuk saya jalani. Jangan pernah salahkan orang yang membenci dan jangan pernah kita bantah apapun yang mereka bilang. Kita terima dengan berbesar hati dan selalu menjaga kebahagiaan yang ada pada diri kita.

Suara Sulteng (SS)
Lalu apa pesan-pesan Anda kepada Generasi Muda Dosen ke depan?
Basir Cyio (BC)
Tidak perlu ada pesan. Mereka yang dosen generasi muda saat ini, akan bermetamorfosis sesuai dengan putaran waktu yang dilewati. Itulah sebabnya, ada dosen yang ketika berusia 25-35 tahun, tampak berhati mulia. Namun di saat berusi 55 tahun ke atas, berubah menjadi ganas, kasar dan terlihat seperti pembrontak. Dan itu akan selalu ada pada masanya. Tetapi ada juga dosen yang di saat berusia 30 tahun terkesan senang melawan, kata-katanya kasar dan tanpa etika berbicara dengan kakak seniornya. Namun di saat berusia 50 tahun ke atas, menjadi sosok yang sangat bersahaja. Penuh sopan santun, dan menjadi sosok yang penyabar sekalipun banyak yang membenci karena mungkin keberhasilannya. Memang harus dipahami bahwa dalam melakoni lika liku kehidupan, terkadang banyak orang yang membenci kita, sementara yang membenci, salaman saja tidak pernah, ketemu juga sekali dalam 5 tahun, bahkan tidak kenal asal usul. Tidak pernah berinteraksi, namun bencinya sampai di ubun-ubun. Pertanyaannya ada apa sampai ada orang atau kelompok sangat membenci orang lain yang kenal secara pribadi saja tidak? Jawabnya, 90 persen itu faktor iri dan dengki. Dalam konteks seperti itu, kita harus hadapi dengan tenang dan jangan ikut-ikutan membenci mereka agar kita tetap Bahagia di saat mereka tak pernah tentram memikirkan orang yang mereka benci, sementara orang yang dibenci tak pernah memikirkan mereka. Yah, itulah yang Namanya hidup yang sesungguhnya. Percaya, sekuat apa pun seseorang dalam menyerang orang lain, pada saatnya juga akan berakhir. Kalau bukan karena uzur atau tertimpa penyakit yang taka da obatnya, mungkin di saat sudah dipanggil oleh Allah SWT kembali ke Alam Baqa. Siapapun dia dan kita, pasti akan tunduk pada Hukum “Law of Deminishing Return”. Semakin meningkat Waktu di sumbu X maka kondisi Fisik di Sumbu Y akan semakin merosot, hingga tiba saatnya sampai ke titik RIP (Rest in Peace—Istrahatlah dalam Damai atau Semoga Tenang di Sisi-Nya). Dan, kita semua akan ke sana. Bagi mereka yang masih senang membenci dan membuat kegaduhan, dipersilah, sebelum—Innalillahi Wa Innailaihi Rojiunn.

Suara Sulteng (SS)
Terima kasih atas waktu Anda
Basir Cyio (BC)
Sama-sama. Sehat selalu , jaga hati dan jaga Prokes.(ss09)

Related Articles

Back to top button