Istana Presiden Yaman Diserang

ANAA – Kota Sanaa, Yaman, bergolak Senin (19/1). Pertempuran sengit terjadi di depan istana kepresidenan dan berbagai wilayah antara tentara pemerintah dan pemberontak Houthi sejak pagi. Setidaknya, dua orang tewas dan 14 orang terluka dalam baku tembak itu. Kemungkinan korban jiwa terus bertambah. Belum diketahui korban tewas dari pihak mana. Pemberontak syiah tersebut berhasil menguasai televisi dan media massa Sabamilik pemerintah.

Perdana Menteri Yaman Khaled Bahah menjadi salah satu sasaran penembakan para pemberontak. Saat itu Bahah usai melakukan rapat dengan presiden dan kelompok politik Ansarallah. Tiba-tiba, iring-iringan Bahah tersebut ditembaki. Untungnya, tidak ada korban dan Bahah selamat. Saat ini Bahah disembunyikan.

’’Penembak datang dari area pengecekan Houthi di dekat tempat pertemuan dan berencana membunuh perdana menteri,’’ ujar Menteri Informasi Yaman Nadia Al Sakkaf. Tempat tinggal kepala keamanan nasional pun diserang.

Baku tembak juga terjadi di distrik Hadda di sisi selatan Sanaa. Pria-pria bersenjata yang ditengarai sebagai pemberontak berkeliaran di jalan Al-Khamseen di depan rumah beberapa pejabat keamanan negara. Termasuk di depan rumah menteri pertahanan. Sebagai perlindungan, saat ini pasukan penjagaan di sekitar istana ditambah. Begitu juga di depan kediaman Presiden Yaman Abdrabbuh Mansour Hadi.

Serangan militan itu merupakan salah satu serangan yang terbesar dalam beberapa bulan ini. Kota Sanaa memang dikuasai pemberontak sejak tahun lalu. Setelah itu, ada kesepakatan yang difasilitasi PBB antara Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi dan suku Houthis. Yaitu, suku Houthis akan menarik diri dari Sanaa ketika pemerintahan gabungan telah terbentuk.

Sayangnya, para pemberontak Houthi itu tidak memenuhi kesepakatan tersebut. Hingga detik ini, mereka tetap ada di Sanaa dan memperlebar wilayah kekuasaannya di pusat-pusat permukiman suni. Serangan semakin memanas antara kedua pihak saat Kepala Staf Kepresidenan Ahmed Awad bin Mubarak diculik Sabtu (17/1). ’’(Serangan) Ini selangkah menuju pemberontakan dan sasarannya adalah kekuasaan negara,’’ tegas Sakkaf.

Kedua pihak menyampaikan pembelaan tentang siapa yang memulai serangan. Houthis menyatakan, tentara Yaman menyerang lebih dulu dengan menembak pasukan mereka yang sedang berpatroli. Sementara itu, tentara Yaman menegaskan bahwa pemberontak Houthi memprovokasi dengan mendekati posisi pasukan militer yang sedang berjaga dan membangun pos pengecekan di area tersebut.

Sakkaf menjelaskan, kesepakatan gencatan senjata telah dilakukan dan disetujui kedua pihak. Namun, di lapangan belum ada tanda-tanda berhentinya pertempuran. Para penduduk menyatakan masih terus mendengar suara tembakan hingga sore. Salah seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) Hisham al-Omeisy melalui akun Twitter-nya mengungkapkan melihat mayat-mayat bergelimpangan di jalanan.

Televisi nasional Yaman menyiarkan, Hadi akan menemui para penasihatnya serta petinggi Houthi untuk membahas berakhirnya kekerasan di negara tersebut. Namun, belum diketahui kepan pertemuan itu akan digelar. Yang jelas, pemberontak Houthi menginginkan hak yang lebih besar untuk golongan syiah Zaydi. (Reuters/AP/BBC/CNN/af/*)

Sumber: Jawapos

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button