KANTOR REDAKSI SULTENG-1 HANCUR, SEBUAH INTROSPEKSI

FOTO 1Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal yang menghancurkan Kantor Koran Mingguan Sulteng-1 patut disesalkan, tetapi sekaligus introspeksi agar dalam melakukan investigasi dan pemberitaan tidak menggunakan kacamata hitam putih, harus lebih hati-hati. Apalagi ada perasaan mentang-mentang karena merasa memiliki kebebasan. Kebebasan Pers tidak boleh disalhartikan, apalagi disalahgunakan. Selama ini, memang tidak sedikit masyarakat yang menyesalkan cara-cara dan pola pemberitaan yang dilakukan oknum wartawan dalam membuat berita di media tertentu pula. Mungkin bukan Sulteng-1. Ada media dan oknum wartawan tertentu itu, yang dalam membuat dan menerbitkan berita, selain isinya kasar, tendensius, juga terkesan menjadikan berita di medianya sebagai berita pelampiasan rasa kecewa karena diduga ada keinginannya tidak terpenuhi dari pihak-pihak yang diberitakan.

Menurut Muslimin SH, sebagai pemerhati, pihaknya juga pernah membaca Koran Sulteng-1 yang memuat berita di halaman satu, yang selain isinya sangat melukai perasaan, juga sangat tendesius. Waktu saya membaca berita itu, saya hanya geleng-geleng kepala, betapa isi berita dan judul yang ditampilkan sungguh-sungguh tidak berperikemanusiaan. Sebagai masyarakat, saya hanya berbisik dalam hati, kalau pemberitaan model Sulteng-1 tidak segera ditata dengan menggunakan hati nurani, suatu saat akan ada pihak yang tidak menerima pola-pola pemberitaan seperti itu. “Sangat tendensius, bahasanya kasar, alur ceritanya penuh emosional”, kata Muslimin SH yang dimintai komentarnya perihal hancurnya Rumah Andono Wibisono yang diduga ada kaitannya dengan pemberitaan yang tidak bisa diterima pihak tertentu.

Menurut Pemimpin Umum Sulteng-1, Andono Wibisono dan juga Pemred Sulteng-1 Ahmad Mukhsin, yang dilansir sejumlah media setelah memberi keterangan Pers di Sekretariat AJI, aksi penyerangan terhadap Kantor Redaksi Koran Sulteng-1 terjadi Sabtu (01/11/14) dinihari. Kejadian itu memang begitu cepat merebak di kalangan pers dan masyarakat umum. Tanggapan mereka beragam, ada yang prihatin tetapi sebagian besar juga menganggap bila itu adalah suatu akibat kurang dipenuhinya nilai kepatutan dalam menjalankan tugas jurnalistik sesuai dengan hati nurani sebagaimana dalam  Kode Etik Jurnalistik. Ada media tertentu, yang isi beritanya membuat orang yang diberitakan terasa dizolimi. Bagi pihak yang memiliki pengendalian diri yang baik, akan pasrah atas berita yang menimpanya, seraya berdoa semoga Koran yang tendensius itu selamat dalam menjalankan fungsinya. Tetapi bagi mereka yang berpikiran pendek, sama dengan kejadian yang menimpa Rumah Andono Wibisono, maka mestinya dijadikan sebagai introspeksi dan pelajaran berharga bagi semua wartawan dan pemilik koran. Pemimpin Umum Sulteng-1 Andono Wibisono dan Pemimpin Redaksi Sulteng-1 Ahmad Mukhsin, jangan cenderung menunjuk pihak tertentu bila tidak memiliki bukti, tetapi serahkan ke pihak berwajib. Bila yang dicurigai merasa keberatan, ini bisa menjadi masalah baru.

Saatnya melakukan evaluasi menyeluruh atas pola-pola pemberitaan. Sebab menurut salah seorang sumber yang layak dipercaya mengatakan, ada Koran yang senang membawa proposal dan kontrak kerjasama ke pimpinan instansi. Bila disahuti, maka semua beritanya berbau “patende dan pujia-pujian”, namun bila kontrak kerjasama tidak dipenuhi, maka tunggu pemberitaan edisi berikutnya. Pasti akan memuat berita-berita tendensius, penuh penzoliman, jauh dari etika bahasa yang layak konsumsi, dan cenderung dijadikan media miliknya sebagai tempat pelampiasan kekecewaan. Atas musibah yang menimpah Koran Sulteng-1, maka hendaknya menjadikan sebagai bahan perenungan bagi siapa saja bahwa hidup ini jangan dinodai dengan kesombongan, kecongkakan, kehebatan, ketakaburan, dan semena-mena. Ingat, kata Muslimin SH, di atas langit masih ada langit. Bukan tempatnya manusia untuk takabur hanya karena merasa ada koran yang dimiliki dan ada kesempatan untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Kata Muslimin setengah berpetuah, jangan kita merasa terzolomi bila ada ujian tetapi sebaiknya bertanya dalam diri masing-masing, sudah berapa banyak orang yang dizolomi sebelum merasa terzolomi.

Dari data yang dikumpulkan terungkap, tiga hari sebelumnya, Pemred Sulteng-1 Ahmad Muksin sudah mendapat ancaman yang isinya meminta agar berhati-hati membuat berita. Ini artinya, kata salah seorang wartawan yang enggan disebutkan namanya, pasti ada berita yang dinilai oleh yang diberitakan dinilai tidak sesuai dengan standar-standar etika. Atas kejadian itu, selain kita sesalkan tindakan pengrusakan karena cara demikian melanggar hukum, juga harus menjadi pelajaran berharga di masa yang akan datang agar setiap ingin membuat dan memuat berita, dipertimbangkan dari sisi-sisi kepatutan. Kita tentu harus menyerahkan masalah ini ke pihak penegak hukum untuk diselesaikan secara hukum. Patut disesalkan tetapi juga bahan perenungan, kata Muslimin SH mengakhiri penjelasannya.(ss/an)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button