Ketika Malaysia ’’Menjual’’ Indonesia

OLEH: Henny Galla Pradana

MURAMNYA sektor penerbangan Malaysia karena kecelakaan pesawat dua maskapai penerbangan besarnya, Malaysia Airlines dan AirAsia, tidak membuat geliat bisnis pariwisata di negeri jiran itu meredup. Justru, untuk menyegarkan suasana liburan akhir tahun dan awal tahun, dua bandara di Kuala Lumpur, Malaysia, yakni Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dan KLIA 2, tengah menggelar agenda shopping berhadiah. Yang mengagetkan, hadiah untuk empat orang yang beruntung adalah berlibur dan menginap di salah satu hotel bintang lima di Bali!

Apabila merujuk pada laman portal Malaysia Airports, upaya merebut hati para pengunjung bandara itu malah tidak dilakukan langsung oleh Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia yang dibawahkan YB Dato’ Seri Mohamed Nazri bin Abdul Aziz. Sebaliknya, acara bertajuk Indulge & Relax: Win The Ultimate Bali Escape yang digelar mulai 24 Desember 2014 hingga 24 Maret 2015 tersebut diinisiatori Malaysia Airports yang bekerja sama dengan puluhan tenant mal di dalam bandara. Selain itu, Malaysia Airports memfasilitasi pengguna salah satu prinsipal kartu kredit untuk mendapatkan peluang undian ganda.

Program undian tersebut seolah menunjukkan bahwa Bali masih menjadi magnet kuat bagi wisatawan internasional agar bersedia merogoh kantong dan berbelanja minimal RM 200 (ringgit Malaysia) atau sekitar Rp 700 ribu saat berada di dalam bandara. Senior General Manager, Commercial Services, Malaysia Airports Said Puan Faizah Khairuddin pun melemparkan gimmick bahwa Bali merupakan destinasi pilihan untuk mendapatkan ketenangan dan keindahan matahari, laut, serta pasir: sebuah kado istimewa selama musim liburan adalah liburan lainnya.

Dengan kapasitas bandara, misalnya KLIA 2, yang minimal mampu memuat penumpang hingga 45 juta orang per tahun, estimasi minimum jika pengunjung rata-rata bandara berbelanja dalam tiga bulan peak season bisa mencapai RM 2,25 miliar atau setara Rp 7,86 triliun! Tidak hanya menjadi peluang bisnis yang menggairahkan, cara itu secara tidak langsung juga mampu membangun image bahwa Malaysia menjadi negara tujuan wisata liburan sekaligus berbelanja sebagaimana tagline-nya: ’’Malaysia Truly Asia’’. Sebaliknya, tidak begitu besar manfaat yang didapatkan Indonesia hanya dari inbound empat pemenang undian.

Defisit Neraca

Dari segala sisi, kondisi pariwisata di Indonesia memang masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia. Berdasar catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 9,44 juta kunjungan sepanjang 2014. Jumlah itu naik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) sebesar 8,80 juta kunjungan. Pintu masuk wisman terbesar masih dikontribusi oleh Bandara Ngurah Rai, Bali, yakni 3,73 juta kunjungan atau naik 15,11 persen (yoy).

Apabila dikomparasikan dengan Malaysia, hingga periode Oktober 2014 saja, jumlah wisman yang masuk ke Malaysia berdasar The Tourist Development Corporation of Malaysia (TDC) mencapai 22,86 juta kunjungan atau meningkat 9,6 persen (yoy) sebesar 20,86 juta kunjungan. Wisman terbanyak yang mengunjungi Malaysia berkebangsaan Singapura, yakni mencapai 11,58 juta orang, dengan pertumbuhan 9,7 persen (yoy) dari 10,56 juta orang. Wisman dengan tingkat pertumbuhan kunjungan tertinggi ke Malaysia adalah Korea Selatan, yakni 42,7 persen (yoy), dari 228.102 kunjungan menjadi 325.493 kunjungan.

Di satu sisi, apabila melihat rapor neraca pembayaran (balance of payment) sampai akhir kuartal ketiga 2014, Indonesia membukukan rapor merah pada transaksi berjalan sektor jasa. Dalam hal jasa travel, memang ada peningkatan penerimaan karena pengeluaran wisman yang juga terkerek. Yakni, menjadi USD 2,5 miliar pada kuartal ketiga 2014 dari USD 2,1 miliar pada kuartal kedua 2014. Namun, jumlah transaksi dalam kategori jasa personal, kultural, dan rekreasi pada neraca pembayaran defisit hingga USD 27 juta. Hal tersebut disebabkan sisi debit (impor) minus hingga USD 65 juta, sedangkan sisi kredit (ekspor) hanya USD 38 juta.

Sebaliknya, Department of Statistic Malaysia mencatat surplus atau kelebihan neraca travel hingga RM 6,79 miliar pada kuartal ketiga 2014. Surplus tersebut mampu dipertahankan kendati naik tipis dari kuartal ketiga 2013 sebesar RM 6,71 miliar.

Kondisi defisit transaksi berjalan yang diderita sektor pariwisata Indonesia itu tidak boleh diabaikan. Sebab, sektor jasa, khususnya pariwisata, bak peluru terakhir yang diharapkan bisa mendongkrak kembali kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini tidak bisa lagi bergantung pada ekspor komoditas di tengah pasar internasional yang lesu darah.

Harapan MEA

Pemerintahan baru di tangan Presiden Joko Widodo diharapkan membawa solusi yang solutif untuk menambal rongga defisit ekonomi Indonesia. Salah satunya, tidak menyia-nyiakan kesempatan bergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dimulai pada pengujung 2015. Dalam MEA, diperkirakan mobilitas masyarakat antarnegara di ASEAN akan semakin padat. Lantaran itu, setidaknya ada dua hal yang patut digarisbawahi agar pariwisata di Indonesia bisa berkontribusi signifikan terhadap perekonomian.

Pertama, industri pariwisata tidak akan mampu berhasil hanya dengan mengandalkan satu pihak atau lembaga, misalnya dari Kementerian Pariwisata. Namun, kementerian yang kini dipimpin mantan Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Arief Yahya itu harus menjadi tonggak perubahan industri pariwisata secara sistemik. Antara lain, mengoordinasikan seluruh lapisan untuk sadar dan inovatif mendorong sektor pariwisata di Indonesia. Mulai asosiasi travel dan wisata, asosiasi pengusaha, Angkasa Pura, hingga Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak.

Dirjen pajak yang baru menjabat, Sigit Priadi, juga diharapkan tidak hanya berfokus menggali sumber-sumber penerimaan pajak untuk mengejar target lebih dari Rp 1.000 triliun. Namun, dia juga mesti membikin inovasi agar aturan perpajakan di Indonesia ramah terhadap turis asing. Misalnya, meningkatkan fasilitas pos-pos restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) (value added tax/VAT refund) di banyak bandara.

Saat ini, turis yang berbelanja dengan nilai PPN minimal Rp 500 ribu hanya bisa refund di lima bandara, yakni Soekarno-Hatta Jakarta, Kuala Namu Medan, Juanda Surabaya, Ngurah Rai Bali, dan Adi Soetjipto Jogjakarta. Padahal, jika ambisi Jokowi membangun dan memperbaiki infrastruktur, termasuk bandara di Indonesia, terealisasi, dibutuhkan fasilitas tax refund yang memadai.

Kedua, yang patut diperhatikan adalah upaya promosi. Ini klise. Namun, menggiatkan marketing di sektor pariwisata ini sangat penting. Mencontoh Malaysia yang menggunakan Bali sebagai gimmick, tidak ada salahnya bandara-bandara di Indonesia mulai memikirikan cara yang sama. Misalnya, menggelar undian shopping berhadiah di tenant-tenant bandara, lantas berhadiah liburan ke destinasi-destinasi wisata unggulan di Indonesia seperti Pulau Komodo, Bunaken, hingga Raja Ampat. Diharapkan, sektor pariwisata makin bergairah dan fundamental perekonomian di Indonesia semakin diperbaiki. (*)

*) Mahasiswa S-2 Strategic Finance, Paramadina Graduate School; penerima full fellowship Medco Energy

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button