Kurikulum 2013, Apa yang Perlu direvisi?

Oleh: Drs. Abdul Gani, M.Si*

Pekerjaan besar kemdikbud sepanjang tahun 2013 sampai 2014 adalah kurikulum 2013. Menurut M. Nuh bahwa ladasan filosofi pengembangan kurikulum 2013 tidak muncul tiba-tiba tetapi ada dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2010-2014 di bidang pendidikan. Salah satu ciri menonjola Kurikulum 2013 adalah pendekatan saintifik. Hasil penelitian Dyers,S.H et all (2011) menyimpulkan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan,1/3 sisanya diperoleh dari genetik, sebaliknya kecerdasaran 1/3 diperoleh dari pendidikan dan 2/3 diperoleh dari genetik. Pembelajaran berbasis kecerdasan hanya meningkatkan hasil belajar 50% sedangkan pembelajaran berbasis kreativitas dapat meningkatkan hasil belajar 200%. Pembelajaran berbasis kreativitas diperoleh melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomuniikasikan yang dikenal dengan 5M.

Alasan lain menghadirkan Kurikulum 2013 adalah adanya Bonus demografi tahun 2015-2020 dan cita-cita negara memperoleh generasi emas tahun 2045. Untuk merealisasikan cita-cita besar itu maka kemdikbud menyusun strategi pengembangan kurikulum yang dimulai dari pembentukan tim nasional yang bertugas merancang dan melatih. Personila yang dilatih adalah para dosen, widyaiswara, guru dan praktisi pendidikan. Pelatihan dilakukan secara berjenjang mulai pelatihan narasumber nasional (dosen dan Widyaiswara), pelatihan guru inti yang berubah menjadi instruktur nasional serta pelatihan guru sasaran. Sejak tahun 2013- 2014 jumlah guru yang dilatih di LPMP Sulteng adalah 10.287 dari target sebanyak 17.812 orang. Desain pusat tahun pelajaran 2015/2016 seluruh sekolah memberlakukan kurikulum 2013.

Terhitung satu setengah bulan setelah, Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden, beberapa kebijakan menteri kabinet kerja mulai dirasakan, seperti bidang pendidikan yaitu mengevaluasi tiga kebijakan besar kemdikbud selama ini yaitu kurikulum 2013, sertifikasi, dan pelaksanaan ujian nasional. Khusus Kurikulum 2013, langsung ditindaklanjuti dengan membentuk tim evalaluasi kurikulum 2013 yang diketuai Prof. Dr. Suyanto guru besar UNY. Setelah Bekerja selama kurang lebih satu bulan tim melaporkan hasil evaluasi yang terdiri dari 3 opsi yaitu: pertama menghentikan total impelemntasi Kurikulum 2013. Kedua sekolah yang sudah tiga semester menjalankan kurikulum 2013 tetap melanjutkan dan sekolah yang baru menjalankan satu semester kembali menjalankan kurikulum 2006. Ketiga menjalankan kurikulum 2013 secara keseluruhan sambil melakukan perbaikan.

Menteri Pendidikan dan kebudayaan Melalui surat edaran nomor: 179342/MPK/KR/2014 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memutuskan memilih opsi kedua yaitu menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014-2015. Sekolah-sekolah ini diimbau kembali menggunakan Kurikulum 2006 (KTSP). Para guru diminta untuk lebih variatif mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Kreativitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan ke luar dari cara mengajar tradisional adalah kunci bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Bagi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 selama tiga semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013-2014 diimbau tetap melanjutkan penerapan Kurikulum 2013. Sekolah-sekolah tersebut akan dijadikan sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013.

Keputusan penghentian sementara Kurikulum 2013, tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan karena substansiny tidak menghapus Kurikulum 2013 melainkan menyempurnakannya. Terlebih lagi, Jika ditelusuri secara jujur dari awal pengembangan kurikulum 2013 tidak bisa dipungkiri bahwa di sana sini banyak kritikan terutama dalam hal pemberlakukan secara total semua sekolah. Ini mengindikasikan bahwa target utama Kemdikbud awalnya hanya pada target kuantitatif bukan kualitatif. Jadi, reisi Kurikulum 2014 untuk mencapai hakikat kurikulum 2013

Menurut Doni Koesoema untuk menyempurnakan kurikulum 2013, ada tiga langkah revisi yang perlu dilakukan. Pertama, merevisi landasan yuridis pelaksanaan Kurikulum 2013, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No 32 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan yang merevisi PP No 19 Tahun 2005. Revisi PP No 32 Tahun 2014 akan berdampak pada revisi  peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) yang menjadi dasar pelaksanaan Kurikulum Pendidikan. Kedua, revisi atas PP No 32 Tahun 2014 akan berdampak pada revisi atas beberapa landasan konseptual filosofis pedagogis Kurikulum 2013 yang selama ini dianggap bermasalah, seperti konsep Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Silabus, tematik integratif, desain buku ajar, dan sistem evaluasi dan penilaian. Ketiga, revisi pendekatan praktis dalam metode pelatihan guru terkait substansi, isi, dan keterampilan yang dibutuhkan.

Pencapaian tujuan revisi itu lebih dikonkritkan lagi menjadi 10 fokus revisi yang harus dilakukan, yakni: 1) revisi konsep Kompetensi Inti untuk mengembalikan hakikat proses belajar yang melampaui sekadar pengembangan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan; 2) revisi pengarusutamaan pada spiritualisme karena menghasilkan spiritualisasi proses pembelajaran yang semuanya diarahkan pada praksis “penghayatan dan pengamalan agama yang dianut siswa; 3) merevisi istilah pendidikan agama dan budi pekerti. Kurikulum 2013 telah memperkenalkan sebuah konsep yang sangat keliru tentang kaitan antara pendidikan agama dan budi pekerti; 4) revisi silabus karena telah terjadi logika terbalik. Kurikulum 2013 ternyata membuat silabus berdasarkan buku yang sudah dicetak, menyesuaikan dan menambahkan apa yang kurang; 5) pendekatan tematik integratif berubah menjadi materi pelajaran. Kurikulum 2013 untuk sekolah dasar mengubah seluruh proses pembelajaran dalam format tematik integratif. Tematik integratif sesungguhnya sebuah metode belajar, bukan mata pelajaran; 6) peta kompetensi dasar. Silabus dalam Kurikulum 2013 tidak menyertakan peta kompetensi dasar. Yang ada dalam buku kurikulum hanyalah jaringan kompetensi dasar. Akibatnya, beberapa kompetensi diajarkan berulang-ulang dalam tema-tema yang lain, sedangkan kompetensi yang lain sama sekali tidak dibahas. Tanpa adanya peta kompetensi, tidak dapat diketahui sejauh mana proses belajar siswa; 7) indikator pembelajaran. Tim revisi kurikulum harus merevisi silabus dengan menyertakan indikator pembelajaran. Tanpa adanya indikator pembelajaran yang lebih detail, proses pembelajaran tidak dapat dinilai dan dievaluasi;  8) model evaluasi dan penilaian. Tim revisi kurikulum harus merevisi model evaluasi pembelajaran baik secara mikro maupun makro. Penilaian kompetensi sikap sangat bermasalah dan tidak realistis karena guru hanya akan disibukkan mengamati siswa agar dapat mengisi kolom penilaian; 9) model pelatihan guru harus diubah. Guru perlu dilatih untuk memiliki kekayaan dalam berbagai macam strategi dan pendekatan belajar serta pendekatan dalam proses penilaian, melalui rubrik, portofolio, proyek, dan lain-lain. Fokus pada micro teaching, bukan pada paparan presentasi power point seperti terjadi selama ini; 10) desain buku pelajaran. Buku-buku pelajaran yang sudah dicetak harus dinyatakan sebagai salah satu referensi sumber pembelajaran saja karena kualitas buku Kurikulum 2013 dipertanyakan dari segi isi dan substansinya

Jika revisi ini dilakukan dengan efektif, maka pada tahun 2018 atau 2019 ketika gong Kurikulum 2013 ditabuh kembali untuk seluruh satuan pendidikan maka tidak lagi menimbulkan permasalahan baik tekniks maupun substansi. (***)

*) Penulis adalah Widyaiswara LPMP Sulawesi Tengah

 

 

 

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button