LAGI-LAGI, REKTOR UNTAD TIDAK MAU MENUNTUT BALIK

Sabar itu mulia. Itulah pepatah yang mungkin menjadi pegangan Rektor Universitas Tadulako, Prof Dr Ir Muh Basir Cyio SE MS. Setelah Direktorat Kriminal Khusus melalui Subdit III/Tipikor Polda Sulteng melakukan serangkaian pengumpulan dan pendalaman data kurang lebih dua bulan yang diakhiri dengan gelar perkara, disimpulkan tim penyidik bahwa Rektor dalam menjalankan tugas-tugas selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) tidak ditemukan langkah-langkah manajemen yang melawan hukum. Semua hibah mahasiswa Kedokteran telah disahkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sebagaimana dilansir Radar Sulteng.

Laporan Prof Dr Ir Marhawati Mappatoba MT, isteri Prof Dr H Chairil Anwar SE MA, salah seorang bakal calon rektor Untad periode 2015-2019 yang gagal masuk tiga besar pada putaran pertama ini, adalah laporan ketiga yang kembali dinyatakan tidak terbukti. Dari dua laporan Prof Dr Ir Marhawati Mappatoba ke Polda dan satu ke Inspektorat Jenderal Kemdibud yang berhasil dihimpun tim redaksi, dua di antaranya justru disimpulkan bahwa yang  melanggar hukum adalah pengelolaan dana hibah kedokteran yang ada pada Yayasan Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA) sebesar Rp10 M lebih.

Laporan pertama dari tiga laporan Prof Dr Ir Marhawati yang dikumpulkan redaksi dari berbagai sumber, yakni laporannya ke Inspektorat Jenderal Kemdikbud Januari 2014 yang telah direspon dengan turunnya tim audit Itjen Kemdikbud. Setelah dilakukan serangkaian audit, kembali disimpulkan bahwa Rp40 M dana hibah telah diterima dan dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip APBN sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan telah disahkan oleh KPN Palu. Yang menjadi temuan Tim audit inspektorat justru yang dikelola Yayasan POTMA yang diketuai Prof Dr Ir Marhawati Mappatoba. Ini tertuang secara jelas dalam Laporan Akhir hasil audit Inspektorat Jenderal Kemdikbud yang berhasil dihimpun Suarasulteng.

Laporan kedua dari tiga laporan Prof Dr Ir Marhawati yakni laporan ke Polda Sulteng yang menuduh Rektor melalukan pencemaran nama baik dan fitnah di saat menyampaikan pandangan di depan para anggota senat, Satuan Pengawasan Intern (SPI), dan juga Dewan Pertimbangan (DP). Dari hasil pengumuplan data dan pemeriksaan saksi-saksi termasuk ahli bahasa yang diakhiri dengan ekspouse perkara, disimpulkan bahwa tuduhan Prof Dr Ir Marhawati kepada rektor tidak terbukti. Atas surat kesimpulan tim penyidik Polda dari Direktorat Kriminal Umum, Rektor Untad Prof Basir Cyio menyatakan tidak ingin menuntut balik, semua diserahkan kepada Allah, dan baginya ingin memetik hikmah di balik semua ini.

Laporan ketiga Prof Dr Ir Marhawati cs yang berhasil dihimpun redaksi, juga ditujukan ke Polda Sulteng yang intinya sama dengan laporan ke Inspektorat Jenderal Kemdikbud. Setelah tim penyidik melakukan serangkaian pengumpulan data, juga tidak terbukti adanya perbuatan melawan hukum oleh Rektor Untad dalam kapasitasnya sebagai Kuasa Pengguna Anggaran atas dana hibah mahasiswa Kedokteran. Semua dana dinyatakan oleh tim penyidik sudah sesuai dengan Undang-undang, dimana hibah tersebut telah disahkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Yang menjadi temuan tim penyidik, sama dengan temuan tim audit Inspektorat Jenderal Kemdikbud, yakni ada pelanggaran UU dalam pengelolaan dana hibah mahasiswa kedokteran sebesar Rp10 M lebih yang dikelola oleh Yayasan POTMA yang diketuai oleh Prof Dr Ir Marhawati Mappatoba. Atas kesimpulan Tim penyidik Polda setelah dilakukan ekspouse perkara, lagi-lagi Rektor Untad tidak akan lapor balik Prof Marhahwati dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Menurut Rektor, Prof Basir Cyio, biarlah masyarakat yang menilai, termasuk dosen, guru besar, para pimpinan Universitas Tadulako, apakah benar saya telah menyalahgunakan amanah yang dipercayakan kepada saya. Saya cuma prihatin, kata Basir yang dihubungi via teleponnya, sebab menurutnya, yang dibesar-besarkan oleh seniornya, adalah hibah mahasiswa kedokteran yang sudah masuk Kas Negara. Selain itu, hibah mahasiswa yang diributkan juga hanya yang ada pada periode masa jabatannya. Padahal, kata Basir, hibah mahasiswa kedokteran sudah ada sejak awal dibuka pendidikan dokter di Universitas Tadulako tahun 2008 sampai tahun 2014 ini. Tetapi kalangan kampus juga mempertanyakan, mengapa hanya hibah 2011 sampai 2013 selalu dibesar-besarkan, sesuai dengan masa jabatan Rektor Prof Basir Cyio. Tetapi, sekali lagi, lanjut Prof Basir, pihaknya hanya berdoa, semoga Allalah yang melihat sebuah kejernihan hati karena saya tidak mungkin melakukan tuntutan balik, terkecuali pihak lain di Universitas Tadulako yang merasa perguruan tinggi kita ini sedemikian ikut terkena dampaknya dari sisi etika seorang dosen.

Ketika ditanya, apakah Prof Dr Marhawati melakukan manuver-manuver politik yang menggunakan hukum ada kaitannya kekalahan suaminya masuk calon rektor? Basir enggan menjawab. “Jangan tanya saya yang politik, biarlah masyarakat menilai”, katanya. Suarasulteng juga berhasil merekam pernyataan sejumlah dosen Untad. Mereka menyatakan sudah sangat gerah menyaksikan manuver politik Prof Dr Ir Marhawati Mappatoba dengan tujuan utama mendeskreditkan Rektor Untad, sekaligus telah ikut merusak citra Universitas Tadulako secara keseluruhan. Bahkan dosen yang dihubungi Suarasulteng mengatakan jika cara-cara memanfaatkan media cetak, media online, mengirim surat ke berbagai pihak untuk mendeskreditkan dan menjatuhkan Rektor, sungguh cara yang amat memprihatinkan. Dr Rustam Abd Rauf SP MP, salah seorang dosen Faperta Untad, mengatakan, surat-surat yang dikirim Prof Marhawati Mappatoba hanya “malaikat” yang tidak dikirimi.

Secara pribadi, pihaknya sangat kecewa karena Rektor Untad tidak mau menuntut balik Prof Marhawati, padahal tuduhan yang dialamatkan kepada Rektor 100 persen fitnah. Kalau saya yang dikasih begitu Prof Marhawati, saya akan lawan. Selaku Ketua Jurusan Agribisnis, selaku alumni, dan selaku putera daerah, saya sangat kecewa dengan Prof Marhawati. Usia saudara Prof Marhawati sudah lebih setengah abad, pendidikan tinggi, professor, kata Rustam. Tapi untuk apa menghargai seorang Professor kalau sudah tidak menjunjung tinggi nilai dan etika. Selama ini saya kagum, tetapi setelah melihat manuvernya yang sangat politis dan sudah jauh dari nilai keteladanan, maka saya pribadi menyatakan prihatin. Untung bukan saya yang dikasih begitu. “Kalau saya, hancur kalau hancur”, tutur Rustam Abd Rauf dengan nada kesal.(ss)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button