Mantan Rektor Dinilai Terlalu Bijaksana

Banyak Dosen FK yang Jadi LEKTOR Belum Lengkapi Poin B

—-

Bagian Kepegawaian, Biro Umum dan Keuangan (BUK) Universitas Tadulako, banyak dikritisi karena ada beberapa dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tadulako yang kenaikan jabatan fungsinalnya dar Asisten Ahli ke Lektor di masa kepemimpinan Prof Dr Ir Muhammad Basir SE MS, yang diterbitkan, namun masih ada kekurangan dokumen pada Poin B (Penelitian). Dokumen tersebut sampai sekarang belum dilengkapi oleh dosen, sementara ada di antara mereka sudah siap-siap mengajukan jabatan fungsional ke Lektor Kepala (LK).

Koordinator Kepegawaian BUK Universitas Tadulako, Amir Makmur SKom MMSI mengakui bila jajarannya kesulitan dalam mengumpulkan dokumen yang belum lengkap tersebut. Untuk itu, pihaknya akan mengirimkan surat permintaan agar segera dilengkapi demi akuntabilitas dan kesahihan kenaikan jabatan fungsional Lektor pada masa itu. Kebijakan yang diambil Rektor kala itu, lanjut Amir Makmur, karena ada situasi yang emergency di Fakultas Kedokteran.

Atas kondisi itulah, Rektor Periode 2011-2015 dan 2015-2019 Prof Muh Basir Cyio mencoba memberi kebijakan dan kelonggaran untuk mengangkat beberap dosen ke jafung Lektor, sekalipun beberapa dokumen diminta untuk segera disusulkan, namun hingga sekarang belum dilengkapi, tegas Amir Makmur.

Mantan Rektor Untad periode 2015-2019, Prof Dr Ir H Muhammad Basir SE MS IPU. ASEAN Eng, ketika dimintai tanggapannya membenarkan adanya situasi emergency yang menerpa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako kala itu. Kondisi emergency dimaksud, kata Prof Basir, adalah adanya permintaan Dekan FK UGM yang sengaja berkunjung ke Untad menyampaikan agar pihak FK Universitas Tadulako segera mempersiapkan diri. Mengingat, rentang waktu yang diberikan untuk segera FK-UTAND mandiri, hanya tinggal hitungan bulan ke depan, kata Dekan FK UGM yang ditirukan Prof Basir.

Atas pertimbangan itu, maka yang terbayang ada dua hal. Yang pertama, kata Basir, menyiapkan dosen-dosen muda agar dapat memenuhi syarat dalam pembimbingan skripsi. Salah satu syarat adalah dosen minimal menduduki jabatan fungsional “Lektor”. Mencermati kondisi di FK saat itu, kata Prof Basir, ternyata dosen-dosennya masih didominasi jafung Asisten Ahli. Ini adalah emergency untuk suatu institusi agar prose penyelenggaraan Pendidikan, khususnya dalam pembimbingan skripsi, tetap dapat berjalan setelah dosen FK UGM seluruhnya ditarik dan tidak ada lagi dosen terbang, kata Prof Basir Cyio.

Atas sikon itulah, ujar Prof Basir Cyio, kami melakukan penyisiran, bagi dosen yang sudah Asisten Ahli dan telah mendudukinya lebih dari 2 tahun, untuk segera mengusulkan ke jafung Lektor. Setelah melihat usulan yang dari FK Untad, kata Basir, 90 persen tidak memenuhi syarat, khususnya di point B (Penelitian). Demi layanan kepada stake holders (mahasiswa FK Untad), maka saya melaukan Langkah “melektorkan” beberapa orang dengan ketentuan, mereka harus memenuhi syarat point B setelah ada penetapan. “Ini memang kesalahan tetapi demi institusi, saya nekad melakukan yang tidak normal karena kondiri saat itu tidak nomal. Artinya, dalam situasi yang tidak normal maka pendekatannya juga harus tidak normal”, tegas Prof Basir.

Sekarang tugas Kepegawaian menagih dokumen yang masih kurang jika kebijakan dan kelonggaran yang diberikan kala itu ternyata belum dilengkapi sampai sekarang. Menurut Prof Basir, dalam SK yang mereka kantongi, pada konsideran terakhir, berbunyi, manakala di kemudian hari ditemukan kekeliruan dalam surat keputusan ini maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya. Jadi, kata Prof Basir, kekeliruan di sini ,untuk kasus ini ,adalah kelonggaran yang diberikan kepada mereka ternyata tidak dihargai. Yah, sekarang kembali kepada pihak kepegawaian untuk menagihnya, urai Basir Cyio.

Ketika ditanya, bagaimana perasaannya saat Dekan FK Untad dr Muhammad Masyur Romi SU ditarik ke FK UGM, Prof Basir mengatakan dirinya sangat galau. Saat itu, lanjut Basir, tidak satupun dosen FK Untad yang menduduki jabatan fungsional Lektor Kepala (LK), walaupun sudah ada yang berpendididkan Doktor. Syarat untuk menduduki jabatan Dekan sebagaimana diatur dalam Permenristek Dikti Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Statuta Untad dalam Pasal 43 ayat (10) disebutkan, syarat calon Dekan berusia maksimal 60 tahun saat berakhirnya masa jabatan dekan sebelumnya, berpendidikan doktor dan menduduki jabata fungsional Lektor Kepala, tanda Prof Basir.

Melihat syarat khusus tersebut, kata Prof Basir, yang berpendidikan Doktor (S3) kala itu baru Dr dr Muhammad Sabir M.Si, namun jabatan fungsionalnya belum Lektor Kepala melainkan masih Lektor. “Kalau ditanya, panik nggak, panik nggak, saya jawab paniklah”, kata Ketua Senat Untad ini. Namun demikian, lanjut Prof Basir, sebagai pelaksana administrasi kala itu, pihaknya tidak boleh hanya panik dan mengeluh, tetapi harus berbuat. Untuk mencegah kekosongan kepemimpinan saat Dekan FK dr Muhammad Masyur Romi SU (K) ditarik kembali ke FK UGM, saya kala itu mencoba mengontek Pak Dirjen Kelemagaan, Prof Dr dr Ali Gufron Mukti. Pada saat itu, usulan LK Dr Sabir belum ada tanda-tanda disetujui. Bahkan belum masuk tahap pemeriksaan. Sebagai Rektor, ini adalah situasi emergency dari sisi kekosongan kepemimpinan Dekan di FK Untad.

Bapak Dirjen Kelembagaan, lanjut Prof Basir Cyio, meminta agar Dekan FK Untad dr Romi dan Dr Sabir menemui dirinya. Alahmdullah, tidak lama setelah Dekan FK Untad menemui Pak Dirjen Kelembagaan, SK Fungsional Lektor Kepala Dr Sabir turun. “Alahamdulillahirabbil Alamin”. Kegalauan sebagai rektor saat itu terobati, dan pihaknya pun segera melantik Dr dr Sabur MsI sebagai dekan periode 2017-2021, andas Prof Basir Cyio. Jadi, kalau ada yang diberi kebijakan karena amergency, marilah kita saling memahami. Saat itu saya memang yang salah mau tanda tangan SK Jafung Lektor sejumlah dosen, tetapi mereka harusnya membantu juga saya atas kesalahan yang saya berbuat, dengan melengjapi yang kurang”, pinta Basir Cyio menutup penjelasannya.(ss09)

Related Articles

Back to top button