Masuk DPO, Tiga Mahasiswa IAIN yang Demo Terancam Gagal Studi

Tiga mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura dalam daftar pencarian orang (DPO). DPO itu diterbitkan oleh Polres Pamekasan. Ketiga mahasiswa tersebut diduga terlibat perusakan fasilitas kampus IAIN, dalam unjuk rasa 30 Juli 2021.

“Ketiga orang yang masuk DPO ini semuanya merupakan mahasiswa IAIN Madura,” kata AKP Nining, Kasubbag Humas Polres Pamekasan, pada Jumat (13/8).

Tiga mahasiswa itu termasuk dari delapan mahasiswa pelaku perusakan. Hanya saja, saat ditanya identitas mahasiswa, AKP Nining enggan mengungkap identitas DPO tersebut.

“Soal identitas akan kami sampaikan selanjutnya. Yang jelas ketiganya merupakan mahasiswa dan mereka juga terlibat secara langsung dalam kasus unjuk rasa rusuh kala itu,” tegasnya.

Nining mengungkapkan, ketiga mahasiswa itu hasil dari pengembangan lima tersangka yang sebelumnya sebelumnya telah diamankan tim Reskrim Polres Pamekasan.

Pihaknya mengaku masih mencari keberadaan dari ketiga mahasiswa tersebut. “Kami masih berupaya mencari ketiganya untuk diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” imbuhnya.

Saat ditanya terkait aksi unjuk rasa itu ditunggangi oleh aktor intelektual, yakni dosen dari salah satu fakultas, AKP Nining tidak menjawab secara gamblang, tetapi juga tidak membantahnya. “Ya, keterkaitan itu akan kami selidiki, termasuk Presiden Mahasiswa melakukan aksi karena diperintah,” kata AKP Nining.

Sebelumnya, unjuk rasa terjadi di kampun IAIN Madura. Demo yang awalnya damai itu kemudian menjadi aksi pengrusakan sejumlah fasilitas kampus. Seperti pemecahan kaca aula, dan pos pengamanan dibakar.

Lima orang diamankan Polres Pamekasan dan dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 170 dan Pasal 406 KUHP. Ancaman jerat pasal 170 tersebut tentang pengeroyokan, sedangkan pasal 406 tentang perusakan.

Satu tersangka lainnya, yakni Presiden Mahasiswa (Presma) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura berinisial SB dijerat lima pasal, yaitu Pasal 160, 170 ayat (1), Pasal 187 ayat (1) ke (1) dan Pasal 406 ayat (1) KUHP Jo 55 KUHP.

“SB yang merupakan Presiden Mahasiswa ini dijerat dengan lima pasal, karena yang bersangkutan merupakan penggagas, penggerak sekaligus koordinator lapangan unjuk rasa rusuh di kampus IAIN Madura yang terjadi pada 30 Juli 2021 tersebut,” kata AKP Nining.

Salah satu warga Pamekasan yang tinggal di sekitar kampus IAIN menyatakan, mereka mendukung upaya Polres Pamekasan. Hal itu tidak lepas dari aksi mahasiswa yang sudah keterlaluan dan di luar batas. “Mahasiswa itu pantas dipenjara. Aksi mereka anarkis. Saya dapat informasi dari teman dosen, aksi yang dimotori Presiden Mahasiswa itu adalah suruhan dosen-dosen IAIN dari salah satu fakultas untuk membuat kisruh kampus IAIN,” jelas Akhyar. (ss15/tim)

Related Articles

Back to top button