Trending

Menebar Aib, Menuai Karma

oleh: Muhammad Khairil

Dosen Pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Tadulako

Sungguh diri tak sempurna, begitu juga yang lain. Setiap kita punya kekurangan, setiap kita pun diberi cukup kelebihan. Boleh jadi kita tidak lebih baik dari yang lain, terlebih kita belum tentu lebih benar dari yang lain. Ironis, bagai manusia suci tanpa dosa, dengan mudah mengumbar aib dan kesalahan orang lain. Ibarat riuh diantara gajah dan semut di pelupuk mata.

Bagai manusia angkuh, hanya karena diberi setitik ilmu, seolah tahu segalanya. Ketika diberi harta yang cukup, seolah hidupnya melebihi harta karun. Ketika duduk dalam takhta, seakan dunia dalam genggaman. Menjelma bagai hakim, merasa diri diberi kuasa menentukan benar salah semata karena selera, prasangka, terlebih ambisi kuasa telah mengubah fakta menjadi fitnah.

Inilah realitas hidup yang sering terjadi bahkan mungkin kita pun mengalami. Apakah itu kita menjadi korban atau yang dikorbankan. Korban berarti kita menjadi objek cerita orang lain tentang kekurangan diri, apakah itu sebatas cerita atau bahkan fakta dari aib atas diri kita. Atau sebaliknya, kita justru menjadi dalang dalam menebar aib dan kesalahan saudara sendiri. 

Menarik untuk mengambil Ibrah dari apa yang pernah dialami oleh Salman Al Faisi, yang dikenal dikalangan sahabat Nabi sebagai Abu Abdullah. Salah seorang sahabat Nabi yang telah berjasa membuat parit ketika perang Khandak dan kala itu telah berhasil melindungi para sahabat dari serangan kelompok musuh.

Walau ayahnya meyakini majusi (para penyembah api) sebagai ajaran kebenaran, namun Salman Al Faisi telah memilih Islam dalam keyakinan agamanya. Ia adalah orang yang pernah menjadi korban dari para penebar aib. Cerita itu bermula ketika ia selesai makan lalu beranjak istirahat. Dalam tidur yang pulas, ia pun mendengkur yang istilah sekarang “suka ngorok”.

Dengkuran Salman kemudian dipergunjingkan oleh para penebar aib dan akhirnya ini pun tersebar luas. Kisah inilah sebagai asal mula dari sebab atau asbabun nuzul turunnya ayat dalam Al Quran Surah ke-49, Al Hujurat ayat 12. 

Ayat ini menyuratkan pesan untuk berhati hati dalam prasangka dan qibah. Termasuk mereka yang suka mencari cari kesalahan orang lain. Prasangka telah mengubah hati yang tadinya bersih, lalu penuh curiga atas dasar dengki, iri bahkan dendam dan sakit hati. 

Mereka yang hidup dalam prasangka, dengan mudah menceritakan aib orang lain bagai mengoleskan madu di bibir. Ironis, andai aib itu tidak dia temukan, maka ia pun berusaha mencari cari kesalahan orang lain. Seolah dengan menyalahkan orang lain, diri bagai suci dan ‘maha benar”.

Dalam keyakinan sebagai muslim, menceritakan aib orang lain tak ubah bagai memakan bangkai daging saudara sendiri. Olehnya, menarik pesan moral apa yang pernah disampaikan oleh Umar Bin Khattab, sang pemimpin kharismatik yang pernah dimiliki oleh dunia Islam. Ia mengingatkan kita semua “Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku, tetapi Aku berkali kali menyesali Bicaraku”.

Senada dengan Umar, Plato sang Filosof ternama yang selalu bijak dalam tutur, dengan sangat inspiratif ia berkata “Wise men speak because they have something to say, Fools because they have to say something”. 

Orang bijak bicara karena mereka memang memiliki sesuatu untuk dikatakan. Sebaliknya, orang bodoh bicara karena mereka harus mengatakan sesuatu. Seringkali kita menilai bahwa orang yang banyak bicara itu adalah orang yang pandai bicara namun andai kita menyadari bahwa sebenarnya tidak semua orang yang banyak dan sering bicara itu adalah pandai bicara.

Sungguh keselamatan itu seringkali ditentukan dari kemampuan kita menjaga lisan. Orang yang banyak menceritakan kejelekan orang lain, tak ubah telah membuka aibnya sendiri. Para penebar aib, tak ubah adalah aib untuk dirinya sendiri. 

Kita tidaklah menjadi baik karena menceritakan keburukan orang lain. Kita tidaklah menjadi benar hanya karena menyalahkan orang lain. Bahkan kita tidaklah suci hanya dengan menyalahkan para pendosa.  

Sebaliknya, tentu siapa yang menanam maka ia juga yang akan menuai. Mereka yang menahan diri dan memilih bekerja dalam diam, juga akan menuai apa yang mereka tanam. Menutup aib saudara sendiri, juga telah menutup aib diri sendiri. 

Prinsipnya siapa yang membuka aib orang lain, maka ia akan menuai karma atas aibnya sendiri. Siapa yang menjaga aib saudaranya, maka aibnya pun akan tertutupi dari orang lain. 

Menutup tulisan ini dengan mengutip apa yang pernah diingatkan oleh Lorenzo Senni, ia belajar dan memetik hikmah dari para pemain catur. Dalam bahasa tutur penuh hikmah, ia berkata “Move in Silence, Only Speak When It’s time to say checkmate”.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button