Pakistan Cabut Moratorium Hukuman Mati

ISLAMABAD – Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Nawaz Sharif mereaksi serius teror maut Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) di Army Public Schools and Colleges System Selasa lalu (16/12/2014). Sehari setelah TTP merenggut nyawa 148 orang dalam insiden tersebut, pemerintah mengakhiri penerapan moratorium hukuman mati.

’’PM telah merestui pencabutan moratorium hukuman mati. Khususnya dalam kasus-kasus yang berbau terorisme,’’ ujar Jubir kantor PM Pakistan, Rabu (17/12). Secara de facto, Pakistan menghentikan hukuman mati terhadap warga sipil sejak 2008. Namun, sampai sekarang hukuman gantung masih tetap menjadi salah satu alternatif eksekusi mati yang tertera pada lembaran negara.

Para pendukung keputusan Sharif itu menyatakan, hukuman mati merupakan satu-satunya cara yang paling efektif untuk menyetop aksi militan. Sebab, proses hukum Pakistan berjalan sangat lamban. Untuk menyelesaikan satu kasus terorisme saja, para pengadil sampai membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ujung-ujungnya, kasus tersebut menguap dan para teroris bisa kembali melenggang bebas.

Bersamaan dengan itu, Sharif memanggil Pemimpin Tertinggi Angkatan Darat (AD) Pakistan Jenderal Raheel Sharif ke ibu kota. Bersama Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, duo Sharif tersebut lantas berdiskusi tentang terorisme dan kerja sama intelijen dua negara. ’’Para petinggi Badan Pusat Intelijen Pakistan (ISI) dan Komandan ISAF Jenderal John Campbell juga hadir,’’ ungkap jubir militer.

Sharif sengaja mengundang Afghanistan untuk membahas terorisme pasca kematian 148 warga sipil dalam insiden di salah satu sekolah milik militer di Kota Peshawar itu. Sebab, selama ini militan selalu memanfaatkan perbatasan dua negara yang bergunung-gunung sebagai sarang dan kamp pelatihan. Kemarin investigasi awal teror Peshawar juga mengungkap beberapa pelaku dari Afghanistan.

Laporan terakhir menyebutkan, korban tewas karena aksi brutal enam militan TTP Selasa lalu berjumlah 148 orang. Sebagian besar di antaranya adalah siswa yang menimba ilmu di sekolah di Warsak Road tersebut. Kemarin warga mulai memakamkan para korban. Pemerintah memberlakukan tiga hari berkabung nasional yang berlaku hingga Jumat (19/12). (af/*)

Sumber: JPNN

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button