Perajin Kasur Kapuk Kesulitan Bahan Baku

PALU – Perajin kasur dari bahan kapuk, terutama asala Dalaka, Donggala, Sulawesi tengah mengalami kesulitan bahan baku kapuk. Kesulitan itu sudah menjadi masalah klasik karena hampir setiap awal tahun seperti saat ini selalu dialaminya. Pasalnya, tidak ada budidaya khusus untuk tanaman kapuk sehingga tidak bisa menjamin kelangsungan usaha.

Masmunah (62), salah seorang perajin kasur dari bahan kapuk dari Dalaka, Donggala mengaku, karena kesulitan seperti itu, dirinya bersama perajin lainnya terpaksa mendatangkan kapuk dari luar provinsi seperti dari Gorontalo dan Makassar. Bahkan katanya, ada di antara mereka yang sampai mendatangkan dari kalimantan.

“Ini sudah tiap tahun terjadi, setiap awal tahun tidak ada kapuk di Dalaka,” sebutnya saat ditemui di tempat penjualannya di Palu, Senin (9/2/2015).

Masmunah mengaku, Dalaka memang dikenal sebagai daerah penghasil kasur atau bantal dari kapuk karena di wilayah itu memang banyak tumbuh pohon kapuk sebagai bahan bakunya. Tapi sekarang lanjutnya, agaknya predikat itu akan tergeser jika pohon kapuk yang selama ini diandalkan di daerah itu sudah habis.

“Masalahnya kapuk yang kita dapat dari pohon yang itu-itu saja, kalau tidak berbuah atau bukan musimnya, pasti tidak ada kapuk,:” sebutnya.

Masalah itu lanjutnya makin sulit dirasakan karena tidak ada satupun upaya untuk melakukan budidaya kapuk. Pohon kapuk yang ada sekarang adalah pohon yang terbilang sudah tua semuanya. Jika pohon itu tumbang atau mati, tentu sudah tidak bisa menyuplai bahan baku lagi.

Karena kesulitan itu, praktis pada musim sulit bahan baku sperti ini, harga kasur atau bantal akan naik. Kasur ukuran nomor 5 (1 meter x 2meter) rata-rata seharga Rp.200.000 per buah. Sedangkan ukuran nomor 1 (2 meter x 2 meter) mencapai Rp.500.000 per buah. “Kalau kapuk banyak, harganya tidak semahal itu,” timpal Masmunah lagi.

Ia berharap kepad apemerintah agar memberikan bimbingan teknis atau mendorong program budidaya di kampungnya di Dalaka agar kontinuitas usaha dapat berlangsung terus dan harga yang lebih rendah juga bisa dinikmati oleh konsumen yang tetap banyak memilih kasur dari kapuk ketimbang kasur dari bahan sistetis. (af)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button