Pertama Kalinya, To Kaili Gelar Libu Mbaso

PALU – Untuk pertama kalinya, warga to Kaili (orang Kaili) melaksanakan perhelatan bertajuk Libu Mbaso To Kaili (Kongres Besar Warga Kaili). Kongres besar yang diikuti seluruh perwakilan etnis Kaili itu dilaksanakan selama dua hari (26-28) Oktober 2014 lalu yang dipusatkan di Millenium Water Park.

Ketua Panitia Libu Mbaso, Imron Lahamado mengatakan, selama pelaksanaan Libu Mbaso yang dihadiri tokoh-tokoh adat itu dihasilkan beberapa gagasan dan pemikiran yang merupakan stimulasi kepada pemerintah seperti menghindari konflik antarsesama. “Kemudian apa sumbernya, itulah yang kita cari dan kita mengajak kepada pemerintah agar memberikan posisi peran adat ini yang lebih dulu diutamakan,” ungkapnya.

Menurutnya, ketika hukum adat diangkat menjadi sebuah dasar untuk melakukan pembangunan, nilai-nilai itu akan muncul. “Contohnya saja seperti Bali, Jogja, Aceh dan Ternate, mereka mengangkat hukum adat menjadi sebuah basic untuk melakukan pembangunan,” jelasnya.

Imron mengatakan, rekomendasi para tokoh adat itu tidak bertentangan dengan undang-undang. “Jadi apabila budaya ditempatkan sebagai salah satu faktor pendukung melakukan pembangunan, saya rasa sudah aman, sedangkan Negara Korea dan Jepang saja yang sudah sangat modern masih menghargai budaya,” kata Imron.

Sementara itu, Manager Milenium Water Park, Leo Mandagie yang menjadi tuan rumah pada kegiatan tersebut bertujuan mengangkat kembali kebudayaan Kaili yang kearifan, selalu cinta damai, toleransi, dan selalu mengutamakan dialog bukan kekerasan.

“Ini kita gelar karena sepertinya kearifan to Kaili ini seakan-akan sudah ditinggalkan dan saat ini banyak contoh perkelahian antar kampung padahal hanya karena masalah kecil yang tidak jelas, selain itu simbol-simbol budaya kaili juga sudah tidak ada,” kata pria yang justeru beretnis Manado ini.

Kata Leo, saat ini sudah jarang ditemui ciri-ciri khas kaili di Kota Palu, bahkan di tempat pariwisata sudah jarang terlihat adanya simbol-simbol khas Kaili. “Jadi kita ingin mengangkat kembali kebudayaan kaili menjadi tuan rumah di Kota Palu, sehingga Kota Palu damai, pariwisatanya meningkat, ternyata sangat banyak yang bisa dijadikan industry pariwisata, baik industry pertunjukan maupun yang lainnya,” lanjutnya.

Ia berharap kepada pihak swasta lain, bisa sama-sama peduli dengan mengangkat kebudayaan kaili dan yang jelas perhatian pemerintah yang lebih terhadap pelaku-pelaku budaya baik di sanggar-sanggar seni maupun komunitas adat. “Kemudian dari segi event budaya yang diperbanyak sehingga akan menjadi suatu industri yang bagus dan baik dari sekedar komunitas, dari sanggar kemudian bisa dikelola dengan baik akan jadi suatu industri yang dapat menghidupi mereka, jadi mereka bisa hidup dari profesionalisme mereka,” tambahnya.

 

Sebelumnya dilaknsakan jalan santai menggunakan pakaian adat kaili, lomba punggawa fitness to kaili, pameran kuliner khas kaili, gelar seni budaya kaili, penampilan komunitas adat kaili dan kolaborasi sanggar-sanggar seni dan budaya.

Pada acara penutupan, beragam pertujukan seni ditampilkan, termasuk kolaborasi seni musik antara etnis Tionghoa yang menapilkan barongsai dan etnis Kaili yang menampilkan tari Vunja. Seremoni penutupan itu berlangsung semarak karena juga dihadiri oleh tokoh-tokoh dari etnis non Kaili seperti Jawa, Bugis, Minang, Padang, Bali, Ternate, Nusa Tenggara dan sejumlah perwakilan lainnya, sekaligus pengukuhan kehormatan kepada sejumlah tokoh yang bukan etnis Kaili tapi telah hidup lama dan mengaku sebagai orang Kaili.

Menurut panitia, kolaborasi dan pengukuhan kehormatan Kaili itu sengaja dilaksanakan sebagai simbolisasi keterbukaan orang Kaili terhadap sesama saudaranya yang kebetulan tidak beretnis Kaili. “Kita patut bangga, bahwa ada orang yang buka etnis Kaili tapi sangat mengaku sebagai orang Kaili,” tandasnya. (af)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button