Reklamasi Picu Banjir Rob dan Abrasi di Teluk Palu

PALU-Gelombang protes yang menentang reklamasi di Kawasan Teluk Palu saat ini, tidak lepas dari kekhawatiran timbulnya bencana alam besar bagi warga Kota Palu di masa depan. Sebab dari kaca mata keilmuan, reklamasi dianggap memiliki dampak buruk lebih besar. Di mana pada akhirnya dampak itu akan dirasakan oleh warga Kota Palu, khususnya yang bermukim di sepanjang teluk dan di sekitar muara Sungai Palu.

Akademisi Fakultas Teknik Untad, Dr Ir H M Galib Ishak MS kepada Radar Sulteng menerangkan bahwa reklamasi memiliki dampak terhadap lingkungan, sosial budaya maupun ekonomi. Khusus pada dampak lingkungan, reklamasi Pantai Talise sepangang 38 hektare dan Pantai Taman Ria sepanjang 24,5 hektare, akan memicu perubahan bentang alam di Teluk Palu.

Perubahan itu, menurut Galib, akan mengakibatkan perubahan arus laut, kehilangan ekosistem penting, mengakibatkan kenaikan muka air sungai, terjadinya sedimentasi secara mendadak, perubahan hidrodinamika, hingga perubahan total lingkungan pesisir di tempat timbunan. Semua dampak tersebut, ungkap Galib, seharusnya tertuang dalam analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan menjadi pertimbangan serta kajian yang matang sebelum memutuskan untuk melakukan reklamasi.

Dia mengungkapkan kenaikan muka air sungai dikarenakan adanya reklamasi, dapat memicu banjir rob. Pasalnya, lokasi reklamasi yang tak jauh dari muara Sungai Palu akan membuat sungai akan kesulitan membuang air ke laut. Akibatnya, daerah sekitar muara sungai rentan terkena banjir akibat luapan air sungai. Seperti Kelurahan Lere dan Kelurahan Besusu Barat.

Galib menerangkan sungai dan pesisir pantai Kota Palu memiliki karakteristik tersendiri. Menurutnya, muara sungai dan pesisir pantainya setiap hari terus mengalami pendangkalan secara alami, akibat dari sedimen yang terbawa oleh arus sungai. Dengan adanya reklamasi, maka terang Galib, akan mempercepat pendangkalan Teluk Palu

“Perlu diketahui bahwa jika pendangkalan secara alamiah itu memberikan kesempatan biota laut, untuk beradaptasi, namun jika reklamasi maka akan mematikan ekosistem laut,” katanya, kemarin (3/3).

Matinya ekosistem laut, akan memicu bencana sosial, karena akan mematikan mata pencaharian para nelayan selaku penduduk asli yang bermukim di sepanjang pesisir Teluk Palu. Olehnya, Galib berharap Pemkot Palu mengkaji kembali adanya reklamasi tersebut. Ia juga menyarankan pemerintah harus dapat melibatkan semua pihak, baik itu masyarakat serta pakar lingkungan untuk melihat dan kembali manfaat dan keuntungan adanya reklamasi tersebut.

Sementara itu, Akademisi Fakultas Teknik lainnya, Yasir Arafat ST MT mengungkapkan bahwa interaksi antara pasang surut, gelombang dimetri pantai dan sedimen sungai yang berada di muara teluk Palu bekerja dalam satu sistem teratur. Sehingga apabila jika ada salah satu bagian di pesisir Teluk Palu muka daratannya diubah, maka akan mengacaukan sistem dan alam secara otomatis mencari jalan keluarnya sendiri. Di mana kebanyakan bersifat merusak dan menimbulkan bencana bagi manusia.

Yasir menerangkan reklamasi mengubah muka pesisir pantai dengan memajukan daratan masuk ke wilayah lautan. Dengan begitu akan menyebabkan wilayah pesisir tidak dalam posisi sejajar seperti bentukan alaminya. Sehingga ada yang terlihat maju menjorok ke laut dan ada yang terliha mundur karena tidak direklamasi atau tetap pada posisinya. Bagian pesisir yang tidak direklamasi inilah, yang akan menjadi sasaran gerusan ombak laut secara terus-menerus sehingga memicu abrasi.

Selain abrasi, arus laut juga akan terdorong masuk ke muara Sungai Palu sebagai area bebas reklamasi. Namun banyaknya air laut yang masuk ke muara, akan bertabrakan dengan air sungai yang menuju ke laut. Akibatnya air di sekitar muara akan meninggi dan mengakibatkan banjir rob.

”Yang jelas sistem hidrologi gelombang air laut di Teluk Palu yang jatuh ke pantai akan berubah dari alaminya. Berubahnya alur air akan mengakibatkan daerah di luar reklamasi akan mendapat limpahan air yang banyak, sehingga kemungkinan akan terjadi abrasi, tergerus atau mengakibatkan terjadinya banjir atau rob karena genangan air yang banyak. Apalagi Kota Palu terletak pada muara antara laut dan sungai,” kata Yasir, yang memiliki spesifikasi ilmu pada Teknik Kelautan ini.

Lebih lanjut, Yasir mengungkapkan reklamasi juga akan berdampak pada aspek ekologi, rusaknya ekosistem perairan dan akan  berakibat pada kerusakan ekosistem wilayah pantai. Selain itu, adanya reklamasi yang ditujukan untuk pembangunan gedung-gedung mewah, akan menghilangkan hak masyarakat Kota Palu terhadap ruang publik untuk menikmati keindahan pesisir Teluk Palu, karena digantikan oleh aktivitas privat.(af/*)

Sumber: Radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button