Rekonstruksi Pembunuhan Mandor Dibatalkan

PALU – Rekonstruksi kasus pembunuhan almarhum Stephandri Cornelis, Rabu (11/2), terpaksa dibatalkan. Penyebabnya karena situasinya tidak memungkinkan. Keluarga korban pembunuhan merasa keberatan, akibat tidak dihadirkannya salah satu saksi pada rekonstruksi tersebut.

Korban Stephandri Cornelis dibunuh pada Januari 2015 lalu di Kantor Pertanahan Kota Palu, Jalan Kartini. Mandor proyek rehab kantor Badan Pertanahan dibunuh dengan cara sadis menggunakan sebilah parang. Pelakunya dua orang, yang tak lain karyawan almarhum bersama seorang rekannya.

Pantauan Radar Sulteng, sekitar pukul 11.00 wita, saat rekonstruksi akan dimulai, istri korban tiba-tiba meminta rekonstruksi tidak dilanjutkan. Karena, istri korban menolak dengan ketidakhadiran salah satu saksi yang merupakan saksi kunci.

Saksi yang tidak dihadirkan polisi, menurut keluarga korban adalah oknum yang melaporkan pembunuhan ke polisi. “Stop, stop. Jangan dilanjutkan rekonstruksinya. Kenapa saksi pelapor tidak ada disini,”teriak istri korban.

“Yang tidak hadir, adalah saksi yang tahu semua kejadian awal mulanya pembunuhan. Saya minta ikut dihadirkan dalam rekonstruksi,” sambungnya dengan suara lantang.

Pada rekonstruksi itu, situasi juga sempat memanas. Sejumlah keluarga korban berusaha memukuli saksi yang saat itu akan melakukan rekonstruksi. Untungnya situasi itu tidak berlangsung lama, karena aparat kepolisian yang menjaga TKP bergerak cepat mengamankan saksi. Polisi juga mencoba menenangkan keluarga korban.

Kasat Reskrim Polres Palu, AKP Hadi Kristanto, yang memimpin rekonstruksi, langsung melakukan negosiasi dengan keluarga. Kasat memilih tidak jadi melanjutkan rekonstruksi, dan akan melakukan lagi dalam waktu yang belum ditentukan.

“Kepada pihak keluarga mempunyai informasi atau petunjuk serta hal yang berkaitan dengan kasus yang kami tangani ini, silakan disampaikan. Tapi selama itu tidak mengganggu atau menghambat proses perkara. Kasus ini kami tangani serius. Buktinya, dalam waktu 24 jam, pelakunya sudah ditangkap,” ujarnya menenangkan istri dan keluarga korban.

Hadi mengatakan, untuk mencari tahu penyebab terjadinya pembunuhan, makanya polisi harus melakukan rekonstruksi. Ini penting, supaya ditemukan gambaran peran masing-masing pelaku. Saat itulah akan terungkap semuanya.

Kasat menyatakan, dirinya siap apabila pihak keluarga ingin bertemu dengannya. Sekadar menanyakan atau memberikan informasi tentang kejadian itu, Kasat selalu membuka diri.

Kepada Kasat, istri korban sempat mengungkap kekecewaannya terhadap perusahaan, tempat sang suaminya bekerja. Yang dimana, tidak menghubungi keluarga saat kejadian. Tiba-tiba, pihak perusahaan sudah memulangkan suaminya dengan kondisi tidak bernyawa lagi. “Kami kecewa. Tidak diberitahu lebih awal. Nanti kaget-kaget, tinggal dikirimi mayat,”ketusnya.

Dari wajahnya, istri korban masih menyimpan trauma mendalam atas kejadian itu. “Saya hanya ingin mencari tahu penyebabnya, kenapa sampai suami saya dibunuh begini. Itu yang saya butuhkan. Agar jelas semua motif pembunuhan terhadap suami saya,” pungkas istri almarhum. (af/*)

Sumber: Radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button