Rektor Nasehati Mahasiswa Penganiaya Rekan

PALU – Tiga mahasiswa yang terlibat penganiayaan terhadap rekan kampusnya, Kamis (4/12), diserahkan ke kampus guna dilakukan pembinaan lebih lanjut. Dengan tak mengabaikan proses pemidanaan, rektor bersama jajarannya berupaya untuk terlebih dahulu melakukan pembinaan, dengan catatan jika hal tersebut terulang proses pemidanaan akan langsung dilakukan oleh aparat hukum.

Dilansir Radar Sulteng, ketiga mahasiswa itu yakni, Taufin, Wahyu Firmansyah dan Iram yang tetap akan menjalani wajib lapor tersebut langsung mendapat arahan dari rektor Prof DR Ir Moh Basir Cyio SE MS, dalam pertemuan di ruang rapat rektorat, dihadiri wakil rektor, Asmadi Weri SH MH, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Muzakir Tombolotutu serta beberapa pejabat universitas Tadulako, termasuk Komdis. Ketiganya selama ini sempat mendekam di tahanan Polsek kurang lebih satu minggu. Pembinaan di universitas bagi ketiganya akan menjalani sanksi akademik yang akan ditentukan melalui sidang Komdis.

Ketika ditanya pengalaman selama menjalani proses penahanan di Polsek, ketiganya tidak banyak memberikan keterangan kepada rektor. Pengalaman pahit yang sempat dijalani sebagai orang tahanan hanya dapat diungkapkan dengan penyesalannya dan mengaku tidak akan mengulangi kembali kekeliruan yang pernah dilakukan.

Rektor Basir Cyio mengatakan, proses penahanan yang dialami ketiganya sedianya dijadikan pelajaran berharga. Sehingga kedepan tidak terulang lagi serta berpikir lebih jernih dalam mengambil suatu tindakan. Karena kejadian yang sempat menyeret ke proses hukum itu tidak menutup kemungkinan adalah upaya orang-orang luar yang sengaja mengacaukan kehidupan kampus.

”Ini harus jadi pelajaran bagi nandaku sekalian. Jangan mau ditunggangi, karena dengan kemajuan kampus kita ini bisa saja ada yang tidak senang. Ini bisa dimanfaatkan oleh orang dari luar,” pesan Rektor.

Semua persoalan dapat diselesaikan kata Rektor, sepanjang masalah tersebut dikomunikasikan. Paling tidak ungkap rektor pengalaman tersebut bisa membuat ketiganya bisa berubah. Sebagai orang tua, dirinya mengaku hanya bisa mengingatkan karena untuk melakukan perubahan datangnya dari diri sendiri. Hal terpenting diingatkan rektor, harapan orang tua yang menginginkan anaknya bisa sukses harus ditanamkan dalam hati. Karena menjalani perkuliahan tidak lain karena keinginan para orang tua untuk melihat anaknya bisa berhasil dimasa datang. ”Yang harus diingat bahwa kalian adalah harapan orang tua dan kalian adalah harapan masa depan bangsa,” kata Rektor menasehati.

Selain itu, diingatkan pula untuk menghindari hal-hal yang mengakibatkan ketiganya terseret kembali ke ranah hukum. Karena konsekwensi apabila tercatat sebagai orang yang pernah menjalani pidana, akan berdampak pada kehidupan selanjutnya, khususnya mendapatkan kelakuan baik dari kepolisian yang akan digunakan untuk mencari pekerjaan.

Keinginan para petinggi Universitas Tadulako yang juga sebagai orang tua di lingkungan kampus agar tidak lagi terjadi kasus yang menimnpa mahasiwa fakultas pertanian (Faperta) yang akhirnya turut menyeret pelaku gagal sekolah. Bahkan alumni yang dalam kasus itu membawa parang akhirnya menjalani proses pidananya.(ma/*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button