REKTOR UNTAD MEMILIH SABAR DARI PADA MELAPOR BALIK

bc1
Rektor Universitas Tadulako, Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio SE MS, menyatakan rasa syukur atas hasil gelar perkara oleh Polda Sulteng yang menangani laporan Ketua Yayasan POTMA Prof Dr Ir Hj Marhawati Mappatoba. Dalam gelar perkara yang melibatkan semua tim penyidik dan ahli bahasa pada Jumat (1/10), diputuskan bahwa laporan Prof Marhawati tidak memenuhi unsur pidana fitnah dan pencemaran nama baik yang dituduhkan ke Rektor. Apa yang dilakukan Rektor melalui presentasi pada 20 Januari 2014 di Media Center Untad dalam rapat lintas antarorgan (Senat, Dewan Pertimbangan, Satuan Pengawasan Intern) adalah bagian dari tugas seorang pemimpin dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.

Prof Basir Cyio yang dihubungi Suarasulteng melalui telepon selularnya mengatakan, saya bukan pribadi yang suka mendendam atau lapor melapor. Terlebih, Prof Marhawati itu adalah senior saya di Fakultas Pertanian Untad. Bahkan beliau sudah jadi dosen sejak tahun 1984 atau 1985, sementara saya nanti tahun 1989. Sebagai orang timur, kata Basir, dirinya sangat menjunjung tinggi adat dan kesenioran seseorang. Jabatan rektor yang saya pegang hanya amanah, dan bukan untuk dijadikan sebagai sumber kewenangan untuk sewenang-wenang. Bahwa Prof Marhawati melaporkan pihaknya ke Polda dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik, menurut Basir, tidak apa-apa. “Intinya, lebih baik saya dilapor dari pada saya lapor senior saya. Lebih baik saya disakiti dari pada saya yang menyakiti”. Insya Allah, niat baik dan kesabaran hidup di dunia adalah modal raksasa yang selalu dievaluasi oleh Allah, kata Basir Cyio yang juga wartawan Senior Harian Radar Sulteng ini.

Dari catatan yang ada, Rektor Untad Prof Basir memang berturut-turut dilaporkan ke Polda Sulteng menjelang pelaksanaan Pemilihan Rektor periode 2015-2019. Ketua Yayasan POTMA, Prof Marhawati yang juga istri dari Prof Chairil Anwar yang ikut menjadi bakal calon rektor namun jatuh pada putaran pertama, melaporkan Prof Basir ke Polda nyaris bersamaan dua laporan sekaligus, yakni laporan pencemaran nama baik dan fitnah serta laporan tuduhan melakukan korupsi. Laporan pencemaran nama baik dan fitnah dimasukkan ke Direktorat Kriminal Umum sedangkan laporan tuduhan korupsi dimasukkan ke Direktorat Kriminal Khusus (Tipikor). Bagi Rektor, laporan itu ditanggapi dengan tenang tanpa memberi reaksi apa-apa. “Tidak apa-apa kalau saya dilaporkan, karena laporan seperti itu justru memberi hikmah yang sangat baik, yaitu selalu bekerja dengan hati-hati. “Dengan laporan seperti itu, Insya Allah saya akan selalu terima dan tidak mempersoalkan dan menjadikan pedoman hidup untuk bekerja lebih baik, hati-hati, tidak menyalahgunakan wewenang, tidak mengambil yang bukan hak, dan senantiasa mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Itulah hikmah kalau saya dilapor ke Polda dan KPK”. Saat Polda memanggil kami, kita bawakan data-data bukan argumentasi. Kami juga menunggu panggilan KPK, Insya Allah kami juga akan membawa data, bukan argumentasi, kata Basir dengan tenang.

Ketika ditanya soal kebiasaan atau tabiat Prof Marhawati yang senang dan gemar menyurat ke sana ke mari dan melaporkan Rektor pada saat-saat tahapan penjaringan balon rektor digelar, termasuk ke Mendikbud, Dirjen Dikti, termasuk memanfaatkan media-media massa kecil lokal dalam membesar-besarkan hal kecil dan sepele, Prof Basir mengatakan, saya selalu terima hal-hal demikian dengan penuh kejernihan hati. “Kunci kebahagiaan hidup didunia ini hanya ada dua, yakni selalu menerima yang membahagiakan dan selalu siap menerima pula yang tidak membahagiakan, itu saja, kata Basir Cyio. Yang pasti, katanya, aparat penegak hukum tidak bisa dipengaruhi hanya dengan argumentasi tapi harus fakta hukum. Kata Rektor, data-data yang dikirim ke Polda dan ke Mendikbud, termasuk yang diserahkan ke LSM dan media massa kecil, bukan data penyimpangan melainkan data normatif.

Basir mencontohkan, berita acara penerimaan dana hibah yang ditanda tangani antara Ketua Yayasan POTMA dengan Wakil Rektor Bidang Keuangan Prof Sahir Natsir setelah dana sebesar Rp15  M disetor ke Rekening BLU Untad, itu juga ada sama kami-kami, kata Basir. Yang salah bila ada uang  hibah lalu kemudian tidak disetorkan ke Kas Negara. Dan perihal dana hibah, semua pihak termasuk orangtua mahasiswa bisa mengecek di Bagian Keuangan bukan hanya dana hibah tetapi termasuk sumber-sumber lain seperti Uang Kuliah Tunggal, SPP, Dana kerjasama. Itu dapat dilihat dan ditanyakan, kemana dan seperti apa cara pemanfaatan uang Negara, sebab semuanya telah menjadi DIPA Universitas Tadulako. Jangan tanya rektor, katanya, tapi tanya yang menangani keuangan, pasti tidak bohong karena tahu persis sekecil apapun jumlah dana yang masuk.

Ditanya soal dana hibah yang tersangkut di Yayasan POTMA setelah ada hasil audit Itjen Kemdikbud, Rektor mengatakan jika hasilnya juga telah diserahkan ke Tipikor Polda, demikian pula ke Kemendikbud, lengkap dengan data dukung yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Karena sudah masuk kas negara, maka tim audit menyatakan clear, kecuali yang terkait dengan dana hibah yang ada pada yayasan, maka Ketua Yayasan POTMA diharuskan mengembalikan dana Rp10 M lebih ke kas Negara, dan ini juga sudah ada di tangan Tipikor Polda, pungkas Basir.(ss)

 

Artikel terkait, baca juga di suarasulteng.comdana-potma-kedokteran-untad-dipolitisasi-6/

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button