Selamat Tinggal Kelas Akselerasi

JAKARTA – Pemerintah melalui Mendikbud menghapus kelas akselerasi yang selama ini banyak dibuka di sekolah-sekolah. Sebagai gantinya, pemerintah juga merancang kelas pendalaman minat yang berlaku di jenjang SMA. Lama belajarnya sama dengan kelas reguler, yakni 3 tahun.

Wakil Mendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, penghapusan kelas akselerasi itu didasari beberapa hasil kajian. Di antaranya adalah membuat anak atau siswa yang belajarnya terpaksa dimampatkan (diperpendekpadatkan). Tak hanya itu, penjaringan siswa yang masuk di kelas akselerasi tidak didasarkan pada IQ tetapi dengan nilai. “Belum tentu anak yang nilainya tinggi, IQ-nya bagus. Nilai bagus itu bisa jadi karena siswanya rajin,” jelas Musliar. Padahal untuk bisa mengikuti pembelajaran yang masanya dimampatkan itu, dibutuhkan kualitas IQ yang tinggi.

Ia menjelaskan, pemampatan lama studi itu membuat siswa tidak memiliki waktu untuk membangun kepribadian. Para siswa juga disibukkan dengan belajar dan kurang aktifitas bergaul dengan siswa lainnya. “Di negara-negara maju tidak ada kelas akselerasi atau kelas khusus. Kalaupun ada, untuk anak-anak dengan IQ diatas 160. Itupun kecil sekali jumlah siswanya,” urainya. Berbeda dengan di Indonesia, dimana kelas akselerasinya banyak sekali, sampai beberapa kelompok belajar.

Meski dihapus, Kemendikbud membuat kelas pendalaman minat. Aturannya diatur dalam Permendikbud 64/2014. Lama belajar siswanya tetap tiga tahun. “Tidak dimampatkan menjadi 2 tahun seperti kelas akselerasi selama ini,” tutur dia. Dalam kelas pendalaman minat itu, siswa harus memiliki indeks prestasi paling rendah 3,66, memiliki kecerdasan istimewa yang dibuktikan tes IQ dengan skor paling rendah 130. “Dalam menyelenggarakan kelas pendalaman minat, sekolah harus menggandeng kerjasama dengan perguruan tinggi,” ujarnya.

Kerjasama dengan perguruan tinggi itu didasari atas kesesuaian bidang keilmuan. Misalnya pendalaman minat kelompok matematika dan IPA, IPS, bahasa dan budaya, atau keagamaan. Kewajiban perguruan tinggi adalah menyediakan sumber daya pendidik yang digunakan sebagai pengajar siswa. Skema ini berbeda dengan sistem sekolah akselerasi selama ini, yaitu di dalam kelas akselerasi, gurunya tetap pendidik reguler yang ada di sekolah masing-masing. “Kerjasama antara sekolah dengan perguruan tinggi ini harus tertuang dalam sebuah nota kesepahaman,” imbuhnya. (af/*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button