Sepertiga Perkara di PN Palu adalah Kasus Narkoba

PALU- Ini menjadi perhatian serius. Dari sekian banyak perkara yang disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Palu, kurun empat tahun terakhir didominasi kasus narkoba. Terutama penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu, setiap tahun terus meningkat. Bahkan, jumlahnya mencapai sepertiga dari total perkara yang disidangkan.

Hal itu diungkapkan Humas PN Palu, Romel F Tampubolon SH, kepada wartawan di Palu, Selasa (10/2). Meski tidak menyebut secara detail jumlahnya, namun Romel mengakui berkas kasus narkoba paling tinggi diadili PN Palu. “Pokoknya, jumlahnya sepertiga dari perkara yang masuk. Dari 500 perkara pidana dan perdata misalnya, sekitar 168 kasus narkoba. Kemudian disusul kasus pencurian, perdata tanah, tipikor dan lainnya,”jelas hakim asal Medan tersebut.

Tahun ini, karir Romel di PN Palu sudah menginjak empat tahun. Selama bertugas, kasus narkoba membuat dia sangat prihatin. Karena, baik pemakai, kurir maupun pengedar, tidak lagi mengenal usia dan golongan. “Peredaran narkoba jenis sabu-sabu di Palu sudah sangat mengkhawatirkan. Ini masalah serius,”warning Romel.

Secara garis besar, yang tertangkap menggunakan narkoba umumnya kaum pria. Mulai dari remaja hingga yang dewasa. Selain warga Palu, ada juga penduduk dari daerah lain tertangkap di Palu saat memakai barang haram tersebut. “Kebanyakan warga Palu. Kalaupun ada warga luar kita adili, hanya kebetulan saja tertangkapnya di Palu,”kata hakim yang sebentar lagi (Februari 2015) mutasi ke pengadilan Minahasa Utara, Sulut, tersebut.

Tingginya kasus narkoba jenis sabu-sabu di Palu, merupakan tugas bersama untuk merumuskan solusi terbaik. Tidak cukup hanya menjadi kewenangan penegak hukum atau institusi tertentu saja. Seluruh stakeholder mesti terlibat dan dilibatkan. “Selain efek jera, digugah kesadaran mereka yang sudah terjerumus di dalamnya,”kata Romel.

Yang menjadi sasaran utama adalah bandar narkobanya. Diperlukan komitmen dalam menindaki bandar narkoba. Kalau hanya diberantas di level bawah (pemakai), Romel pesimistis akan efektif. Bahkan dia berpendapat, kalangan penegak hukum harus mampu membongkar jaringan bandar narkoba. Tidak cukup sampai pada pemakai saja.

Bila perlu kata Romel, pemakai yang tertangkap dilindungi demi mendapatkan sumber informasi, sehingga sang bandar terkuak. Setelah itu, cukup dilakukan rehabilitasi pada pemakai, karena bandar atau otaknya sudah tertangkap.

“Harusnya, pola-pola yang lebih ampuh kita terapkan pada kasus narkoba, sehingga generasi bangsa ini tidak rusak karena narkoba,”tandasnya. (af/*)

Sumber: Radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button