Sikap Guru Harus Segera Berubah

SEMINAR Pendidikan Inklusi yang digelar Bidang Pendidikan Khusus Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK), Dinas Dikbud Sulteng berlangsung cukup menarik. Seluruh narasumber membawa materi dengan kocak namun mengena, sehingga suasana tetap segar.

Jarang tampak ada peserta yang keluar dari tempat duduknya untuk sekadar menghilangkah ngantuk. Apalagi narasumber I Nyoman S. Dengeng, menyampaikan materinya dengan cara berbeda.

Konser musik orchestra ditayangkan dalam dua layar slide berukuran besar. Peserta seminar terdiam menyaksikan tayang selama 4 menit itu. Dapat dipastikan peserta seminar berpikir, mencoba menghubungkan konser musik orchestra itu dengan materi atau tema seminar pendidikan inklusi.

Mereka segera tahu. I Nyoman S Dengeng mengatakan konser musik orchestra adalah sebagai pembelajaran pada sebuah pendidikan inklusi. Dalam konser itu terdapat berbagai macam alat musik yang berbeda-beda, tetapi menghasilkan suatu irama musik yang indah.

Panggung diibaratkan suatu kelas yang pemain musuk ibarat  siswa atau anak-anak dengan latar belakang berbeda, kemampuan intelektual yang berbeda, serta fisik yang berbeda. Sedangkan alat-alat musik sebagai instrumen adalah kurikulum.

Masih dengan memberi ilustrasi, I Nyoman soal sikap-sikap guru yang dinilainya sebagai sebuah kejahatan. Misalnya memperlihatkan muka marah, memperdengarkan kata-kata marah kepada siswa yang terlambat datang ke sekolah, hingga dengan memberi hukuman.

Dia mengatakan sikap guru harus segera berubah dalam menerapkan pendidikan inklusi. ”Jika guru masih belum berubah, masih memperlihatkan, memperdengarkan sesuatu sikap yang tidak baik kepada siswa, maka jangan dulu menerapkan pendidikan inklusi,” katanya.

Sebab setiap anak apalagi anak berkebutuhan khusus (ABK) pasti akan menimbulkan masalah karena ke-ABK-nya. ”Jadi guru harus mengubah sikapnya, terutama tindakan-tindakan amarah guru kepada satu orang yang biasanya berdampak kepada semua murid,” kata I Nyoman.

Dia menegaskan guru inklusi harus menerima siswa apa adanya. ”Yang perlu dilakukan guru adalah menyegerakan anak berinteraksi dengan pelajaran bila datang terlambat masuk kelas. Bukan dengan memarahinya karena terlambat masuk kelas,” ujarnya. ”Kesalahan tidak boleh diganjar hukuman,” ujarnya lagi.

Guru harus memiliki ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, memiliki cinta, kelembutan, improvisasi, dan pengendalian diri memenuhi pekerjaan sebagai pengajar.  Siswa akan merasa sejahtera kalau aktivitas belajar mengajar menyenangkan.(af/*)

Sumber: radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button