Tersangka Penista Agama Minta Maaf

PALU – I Wayan Heri Kristian (21), meminta maaf kepada seluruh umat muslim atas status yang dibuatnya di media sosial Path. Permintaan maaf itu disampaikan saat dihadirkan di depan wartawan di ruang Humas Polda Sulteng, Kamis (9/10/2014).

Mahasiswa semester 7 di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (Stifa) Palu itu menyatakan, ia tidak menyangka kalau status yang dibuatnya itu berefek besar, terutama kepada umat muslim yang saat itu sedang merayakan hari Idul Adha.

“Terus terang, saat itu saya lagi kacau, tidak enak perasaan, gelisah, lalu status itu spontan saja saya buat,” aku I Wayan Heri Kristian yang sehari-harinya dipanggil dengan Tian itu.

Selang dua jam setelah membuat status yang menghina umat muslim itu, ia mengaku diperingati oleh rekannya. “Teman saya itu bilang, hapus itu statusmu karena banyak yang tidak suka, termasuk saya,” ujarnya yang saat itu didampingi oleh omnya, Natsir.

Setelah mendapat peringatan dari rekannya itu, ia kemudian langsung menghapusnya, namun sudah terlanjur dicapture oleh beberapa orang yang sempat membaca status tersebut dan membagikannya ke orang lain. Saat itulah, share tentang status penghinaan itu menyebar ke hampir semua media sosial termasuk twitter, facebook dan sebagainya.

“Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada umat muslim di Palu dan juga seluruh umat muslim atas status tersebut,” ujar Tian dengan muka yang terus tertunduk itu.

Kepala Bidang Humas Polda Sulteng, AKBP Utoro Saputro yang mendampinginya mengatakan, pihaknya telah menahan I Wayan Heri Kristian sejak Senin (6/10/2014) setelah menerima laporan dari warga. Ia juga mengaku sudah memeriksa beberapa saksi serta meminta keterangan dari sejumlah pihak termasuk MUI Sulteng.

“Setelah memeriksa saksi dan meminta keterangan, maka yang bersangkutan langsung kita tetapkan sebagai tersangka dan tahan,” ujar Utoro.

Ditanya tentang pasal pelanggaran yang dilakukan, Utoro menyatakan, tersangka akan dijerat dengan Undang-Undang Penistaan Agama dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.

Sementara itu, di depan kantor Polda Sulteng, sejumlah warga yang menamakan diri dari Front Pembela Islam (FPI) melakukan unjuk rasa. Ia meminta kepada Kapolda agar menghukum berat pelaku yang telah melakukan penghinaan terhadap agama.

Usai berorasi di depan Polda Sulteng, mereka kemudian bergerak ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (Stifa) yang terletak di Jalan Monginsidi Palu. (af)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button