TIPS MEMAHAMI MODUS “PEMERASAN” KORAN ABAL-ABAL

abal-abalTIDAK sulit menjejaki Koran Abal-abal dalam menjalankan praktek-praktek tidak terpuji yang targetnya pimpinan instansi di Sulawesi Tengah, baik itu SKPD maupun lembaga pendidikan. Beberapa skenario dan modus yang sering dipraktekkan oleh Koran Abal-abal tersebut, yang menurut Tokoh Pers Sulteng, Armin Ngalle SH, dapat disimak sebagai berikut:

LANGKAH PERTAMA. Dalam memulai operasinya, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Ababl-abal mendatangi kepala kantor atau pimpinan instansi dengan menenteng Proposal lengkap dengan Kontrak (Perjanjian Kerjasama—PKS). Di dalam proposal dan PKS tersebut tercantum company profile: Nama Direktur, Pemimpin Umum dan Pemred Koran Abala-abal; Jabatan oknum di Koran Abal-abal; Alamat Koran Abal-abal; e-mail Koran Abal-abal. Dan yang paling mencengangkan adalah jumlah Nilai Kontrak yang langsung tertulis umumnya Rp250 juta.

LANGKAH KEDUA. Bila Proposal itu sudah berada di tangan pimpinan instansi, maka 3 atau 4 hari kemudian, Pemred Koran Abal-abal mewakili Direktur atau Pemimpin Umum Koran Abal-abal itu menghubungi kepala Instansi menanyakan bagaimana tindak lanjut atas PKS (kontrak) yang sudah diantar oleh Bosnya. Jawaban pimpinan instansi saat itu, akan mewarnai Pemberitaan di Koran Abal-abal itu pada edisi berikutnya. Bila disetujui PKS maka beritanya akan penuh dengan “patende” tetapi jika tidak, maka tunggu berita tendensius.

LANGKAH KETIGA. Akan trbit berita miring yang ditujukan kepada kepala instansi itu dengan bentuk pemberitaan yang tendensius, berisikan gambaran kekecewaan, kekesalan karena gagal mendapat uang Rp250 juta, dan bahasa-bahasa jurnalistik aneh-aneh karena impian oknum itu tidak menjadi kenyataan dalam mendapatkan uang melalui pemerasan secara kasar berselimutkan cara-cara halus yang diberi nama Perjanjian Kerjasama (Kontrak).

LANGKAH KEEMPAT. Pemred Koran Abal-abal itu menanyakan, apakah sudah baca berita yang mereka muat di Koran Abal-abalnya? (oknum itu menyebut nama Koran yang dibangga-banggakan).

LANGKAH KELIMA. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Abal-abal itu menunggu untuk dipanggil setelah berita miringnya diterbitkan. Langkah terakhir inilah yang kadang dianggap pintu masuk sebagai cara yang tepat setelah upaya awal dalam bentuk proposal tidak berhasil.

Menurut Armin Ngalle SH, bila ada pimpinan instansi yang merasa pernah didatangi atau akan didatangi Oknum Pemimpin Umum atau Pemimpin Redaksi Koran Abal-abal, maka mulai sekarang tidak usah gubris. Sebab Ending dari semua itu adalah menjadikan pemberitaan miring yang tendesius sebagai upaya terakhir mereka untuk diundang datang ke instansi itu membicarakan Proposal atau Perjanjian Kerjasama yang pernah mereka antar. Menurut Armin Ngalle SH, tidak usah digubris, dan bila perlu dilapor kepada pihak berwajib agar diproses sebagai pemerasan berselimutkan proposal. Inilah tip-tip memahami cara kerja Koran Abal-abal yang dipimpin oleh oknum yang menggantungkan sumber rezekinya dari cara-cara yang tidak terpuji, kata Armin. (SS/Ptr)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button