Tokoh Masyarakat Tondo Silaturrahim

Ramadhan: Izinkan Kami Ambil Bagian Jika Dibutuhkan

———

Setelah hampir tiga tahun tokoh masyarakat Tondo tidak pernah lagi bersilaturahim dengan mantan Rektor Untad, mereka mencoba untuk menemui Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio SE MS di Kampus Untad Tondo, Senin (6/9). Mereka berjumlah 10 orang dengan maksud ingin membangun kembali silaturahim yang nyaris hilang selama tiga tahun. Kami datang untuk membawa setitik kerinduan yang pernah ada sejak tahun 2011 sampai 2019, kata salah seorang Tokoh Masyarakat Tondo, La Dalle. Selain itu, Ketua Pangkalan Ojek Ngapa, Endah didampingi Ramadhan, juga menyahuti bersama tokoh lainnya.

Silaturrahim Tokoh Masyarakat Tondo

Menurut La Dalle, pihaknya datang silaturahim sebagai bukti bahwa kami adalah bagian dari Universitas Tadulako yang pernah diikrarkan sekitar 9 tahun silam. Karena itu, Sambung Bahtiar dan Makmur, yang keduanya adalah Ketua RW, memohon agar Prof Basir Cyio walaupun sudah bukan rektor namun dimohon untuk tetap menghidupkan kembali silaturahim yang nyaris hilang sejak tidak lagi menjadi Rektor.

​Pada bagian lain, La Dalle atau Papa Andika dalam pernyataannya yang berbicara secara bergantian mengatakan, pihaknya juga merindukan keteladanan dari dosen dan mahasiswa Untad dalam bertutur dan dalam berpolitik. “Kami tidak mau mencampuri urusan kampus, katanya, namun jika ada oknum melakukan cara-cara tidak terpuji menyerang secara pribadi Prof Basir, saya tegaskan tidak menerima. Karena itu, Sambung Ramadhan, pihaknya meminta agar diizinkan mengambil bagian sebagai Keluarga besar untuk hadir melalui ikatan silaturahim.

Silaturrahim Tokoh Masyarakat Tondo

Prof Basir, lanjut Ramadhan, begitu besar perhatian yang diberikan kepada kami di Tondo selama kepemimpinannya. “Kami cuma bilang, jangan ada yang bakasar le, jangan baserang pribadi, kami tidak terima”, pinta Papa Andika. Masih kata Papa Andika, mungkin banyak orang yang tidak tahu, bahwa satu-satunya Rektor Untad yang pada tahun 2012, sengaja mencari anak tukang ojek dari Tondo dan anak petani Vatutela yang lulusan SMA Negeri 5. Awalnya kami mengira untuk dikasih kerja sebagai honorer. Ternyata, kata La Dalle, kedua anak dari Keluarga tak mampu itu dimasukkan ke Kedokteran. Sekarang, katanya, kedua anak tukang ojek dan anak petani dari Vatutela, sudah menyandang gelar Dokter, dan sekarang sudah bekerja di Puskesmas Ogotua, yang dibenarkan oleh orangtuanya yang juga hadir dalam pertemuaan itu. Inilah bukti perhatian yang luar biasa dari Prof Basir yang dalam berpikir kala itu sangat futuris, tegas La Dalle.

DISIKAPI DENGAN TENANG

​Mendengar ungkapan kerinduan para sosok dan tokoh yang selama ini punya hubungan silaturahim sangat dekat dengan Keluarga Untad, Prof Basir menyikapinya dengan tenang. Menurut Basir, pihaknya memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas situasi hati yang dirasakan selama ini. Secara pribadi, nurani saya tak akan pernah melupakan Keluarga besar kami di Tondo termasuk di Vatutela, baik yang sejak lama bersama-sama membenahi kampus melalui Natalita, maupun saudara kami di Pangkalan Ojek.

Prof Basir melanjutkan, selain karena kondisi Covid sejak 2020 hingga saat ini sebagai penyebab terputusnya silaturahim, Prof Basir juga mengakui karena kealpaannya dalam menjaga apa yang telah lama terbangun dan juga karena saya sudah bukan siapa-siapa”, ungkap Basir dengan penuh kerendahan hati. “Saya ini kasian sudah tidak rektor, jadi saya fokus hanya dikegiatan akademik”, sambungnya. Jadi, kata Basir, sekali lagi, dirinya mohon maaf dan berjanji untuk merajut kembali silaturahim yang pernah ada. Mendengar ungkapan Prof Basir, seluruh tokoh yang hadir mengaminkan sembari membasukan kedua tangannya ke wajah mereka masing-masing.

Silaturrahim Tokoh Masyarakat Tondo

HANYA DINAMIKA BIASA

​Mendengar kegalauan yang diungkapkan La Dalle dan Ramadhan atas dinamika yang berkembang akhir-akhir ini menjelang Pemilihan Rektor tahun 2022, baik itu yang dilakukan oleh sejumlah oknum dosen maupun oknum mahasiswa, Prof Basir mengatakan, apa yang terjadi adalah hal biasa dan lumrah. Bahkan riak-riak itu, kata Basir membawa keindahan tersendiri dalam mempelajari style mereka. Terlebih, yang melakukan riak-riak itu, bukanlah gambaran keseluruhan Warga Kampus, tegas Basir Cyio. “Saya, Alhamdulillah sudah sangat terbiasa menghadapi dinamika kampus sejak lama. Menurut Basir, ketika mau maju sebagai Calon Wakil Dekan 1 Pertanian, lain lagi riaknya dari teman-teman. Ketika maju sebagai calon Dekan Pertanian, juga lain isu dan jenis jalan ceritanya. Dan saat maju sebagai Calon Rektor tahun 2010, kehangatan cuaca kampus lain lagi. Jadi, kata Basir Cyio, semua itu hanya benar-benar hafal secara real time (waktu ke waktu). Bahkan menjelang Pilrek pada periode keduanya, juga kembali hangat.

Saat ini, lanjut Prof Basir, terdengar lagi suara-suara yang menurut orang kurang enak di dengar, tapi di mata Prof Basir, itu biasa saja. Yang menarik, kata Prof Basir, saya bukan siapa-siapa dan bukan juga Balon Rektor, tapi target mereka itu saya, urai Basir sambil tertawa. “Saya ini siapa kasian”, katanya bercanda.

Menurut Basir, pihaknya banyak belajar di setiap pesta demokrasi, khususnya jelang Pilpres. Di sana, kata Prof Cyio, semua jenis fitnah dan cacian bisa kita dengar dan bisa kita baca. Kelompok satu fitnah kelompok lainnya, dan demikian sebaliknya. Kalau kita bandingkan di kampus, masih sangat wajar, kata Basir memberi pemahaman kepada Keluarga yang datang silaturahim. Masih kata Prof Basir, pihaknya semakin tajam dalam meneropong, mana yang baru belajar, mana yang sudah lama tapi masih menggunakan cara konvensional, siapa penggerak di balik semuanya, dan siapa yang tampak sebagai penyandang acting, dan siapa mahasiswa yang dilibatkan. Semua dengan mudah diurai, jelas Basir.

Untuk itu, pintanya, mohon kita semua melihatnya secara tenang dengan suasana batin yang kokoh, sebab yang riak-riak begini akan selalu berulang dalam musim empat tahunan, walaupun orangnya berubah-ubah karena mungkin sudah ada yang meninggal dan sudah ada yang lelah, kata Basir.
​Penjelasan Prof Basir, kembali ditanggapi oleh Ramadhan. Dia mengatakan, cara-cara yang tidak beretika sulit mereka terima dan tidak boleh dibiarkan, apalagi cenderung menyerang pribadi. Prof Basir hanya senyum mendengar, dan mengatakan, dirinya tidak pernah merasa diserang, dan sama sekali tidak berpengaruh dalam kesehariannya. “Hati dan jiwa ini sudah sejak awal sudah terbiasa”, kata Basir. Lebih lanjut dikatakan, metode dan taktik apapun yang dilakukan oknum tertentu, saya anggap itu hanya dinamika. Bahkan, lanjut Basir, pihaknya malah memosisikan diri sebagai penonton setia dalam menyaksikan setiap manuver. Jadi, pinta Prof Basir, agar kita semua tetap tenang dan sabar, kita lewati ini dengan doa karena doa dan orang yang tenang selalu mampu berpikir cerdas, tidak sporadik, dan kita jangan ikut kasak kusuk, tapi harus tenang, berdoa dan tawakkal kepada Yang Di Atas, kata Basir.

​Menurut Prof Basir, jika kita mau belajar, kita lihat Pak Presiden diserang kiri kanan oleh mereka yang tidak senang, tapi ternyata Pak Jokowi tetap bekerja. Kalau Pak Presiden saja diserang kiri kanan, apalagi seperti kita-kita yang hanya “tonakodi”, sambung Prof Basir. Atas penjelasan itu, membuat rombongan merasa tenang. Namun, Papa Andika kembali menegaskan sebelum pamitan bahwa jika ada oknum yang tidak mencerminkan etika, menyeranag secara pribadi, mohon maaf Prof, izinkan kami-kami untuk ikut mengambil bagian karena kami siap lahir batin. Dan saya ingin mengatakan, kata Ramadhan, sebagai orang Tondo, mohon kiranya peristiwa kelam tahun 2016 tidak terulang kembali. Selain itu, pihaknya selalu berusaha menjaga ketenangan kampus dari luar, tapi kalau orang dalam sendiri yang bikin ribut, yah tinggal dilihat apa yang sebaiknya kami lakukan demi kebaikan kita bersama. Kami siap lahir batin, tegas Ramadan tanpa menjelaskan apa maksud siap lahir batin.

​Pertemuan yang sangat akrab itu, diakhiri dengan salam jarak jauh sesuai dengan Prokes, dan sepakat menjadikan momen ini sebagai hari kebangkitan silaturahim antara kedua Keluarga besar. (ss01/ss03)

Related Articles

Back to top button