Transmisi Lambat, Terbentur Persoalan Izin dan Medan

 

POSO – Ketersediaan sumber energy listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sulewana Poso, yang menggunakan sistem interkoneksi berkapasitas 3×65 megawatt (MW) itu, selama tiga tahun terakhir hanya terbuang percuma. Hal ini dijadikan salah satu isu strategis Dewan Energy Nasional (DEN) tentang kondisi kekurangan penyediaan tenaga listrik di Sulteng.

Sabtu (28/1) lalu, tim dari DEN yang diwakili bidang konsumen Prof Dr Ir Syamsir Abduh, datang ke PLTA Sulewana Poso untuk melihat dari sisi pembakit, dan melakukan pengecekan mengapa transmisi tidak cepat sampai ke Palu.

“Kunjungan ini berdasarkan rekomendasi hasil sidang anggota DEN, setelah adanya informasi dan laporan dari berbagai pihak, mengenai keterlambatan pembangunan transmisi. Apa lagi Sulawesi Tengah masih dalam garis merah daerah yang mengalami defisit, ” kata Prof Syamsir, kepada wartawan.

Disampaikannya, bahwa kondisi kekurangan penyediaan tenaga listrik di daerah juga ditetapkan pada sidang anggota DEN, agar mendorong pemerintah melalui DEN, selenajutnya PLN segera melakukan langkah-langkah penyelesaian atas kondisi kekurangan penyediaan listrik. “Penyelesaian permasalahan kondisi kelistrikan yang didapatkan adalah mengandalkan sumber energi dari PLTA. Atas berbagai macam informasi dan laporan keterlambatan sehingga DEN melakukan kunjungan kerja, ” jelasnya.

Dijelaskan, berdasarkan temuan permasalahan sehingga pembangunan transmisi 150 kV lambat masuk ke Palu, adalah persoalan izin pinjam pakai untuk pembahasan lahan. Kemudian medan yang berat, untuk pembangunan tower jaringan listrik.

“Yang menjadi catatan, terungkapnya keterlambatan transmisi dikarenakan permasalahan izin dan medan pembangunan transmisi yang berat. Terparah dari daerah-daerah lain, sehingga menghambat lambatnya listrik masuk ke Kota Palu. Temuan ini yang menjadi laporan kita ke anggota DEN, ” ungkapnya.

Yang paling penting, kata profesor asal Bangkir Tolitoli itu, salah satu poin pada kebijakan DEN, peran pemerintah dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan listrik di daerah. Artinya, ketika terjadi pemadaman dan sebagainya, PLN sebagai operator itu tidak terlepas dari tanggung jawab pemerintah daerah.

“PLN sudah berkomitmen bulan Februari sudah selesai transmisi. Seperti yang dilaporkan ke kami sebagai tim DEN, Jum’at (6/3) pekan depan, sudah akan dialiri ke Palu,” tandasnya.

Sementara, Manager Pembangkit PT Poso Energy, Slamet Supardi, mengungkapkan adanya pembakit listrik dari tenaga air berkapasitas 3×65 megawatt (MW) itu. Apabila sudah menyatu dengan jaringan transmisi PLTA 150 kV, nantinya akan menopang seluruh kebutuhan di Palu. “Daya yang ada selamanya akan tersedia, selama air masih ada. Jadi sangat disayangkan kalau tidak digunakan. Di PLTA memberikan asalkan ada transmisi yang tersedia, ” katanya.

Menurutnya, sumber daya listrik yang diharapkan bisa menuntaskan permasalahan krisis pemadaman di Kota Palu, satu-satunya hanya ada pada sumber energy PLTA Sulewana Poso, karena dengan menggunakan tiga mesin generator akan dihasilkan 3×65 MW.

“Berdasarkan laporan tiga tahun lalu, setelah kita suplay ke Makassar. Makassar itu sudah surplus, makanya saya bilang kemana lagi ini listrik kalau bukan ke Palu, ” paparnya.

Disebutkannya, jika semua sistem di Palu sudah siap, maka berapa pun permintaan untuk PLN area Palu akan terpenuhi setelah disuplai dari PLTA Poso.

“Kalau dengan jumlah pelanggan yang ada di sistem Palapas, ketika disambung ke transmisi, percaya saja semua akan terlayani. Dalam artian, jika masuknya transmisi PLTA secara pasti tidak ada lagi pemadaman di Kota Palu, ” pungkasnya.(egi)

Sumber: Radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button