Warga Lore Mulai Eksodus ke Sigi dan Palu

POSO – Sejumlah warga di dataran Napu Kecamatan Lore Utara dan Lore Timur Kabupaten Poso, mulai meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka. Eksodus warga dipicu oleh situasi keamanan yang belum kondusif pasca aksi teror kelompok sipil bersenjata di wilayah pegunungan Napu beberapa waktu lalu.

Daerah yang menjadi tujuan eksodus warga dataran Napu adalah wilayah Palolo Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Hal tersebut dikatakan anggota DPRD Kabupaten (Dekab) Poso, Berkat Megati, Selasa (10/3) kemarin. “Yang paling banyak eksodus itu warga dari Desa Sedoa dan Desa Tamadue,” jelas politisi Partai Demokrat ini.

Menurut Berkat, alasan utama warga meninggalkan rumah dan kampung halaman ke wilayah Palolo dan Palu adalah karena faktor keamanan yang tidak kondusif. Warga dataran Napu yang 95 persennya berprofesi sebagai petani, tidak lagi bisa beraktifitas dengan normal. Warga yang letak kebunnya berada di pegunungan yang jauh dari kampong, bahkan tidak lagi bisa merawat dan memetik hasil tanamannya.

Itu dikarenakan warga takut untuk pergi ke kebun. “Tujuan warga eksodus adalah untuk mencari makan. Sebab dikampungnya tidak lagi aman untuk bekerja menghidupi keluarga,” tukas Politisi asal daerah pemilihan (Dapil) III  wilayah Lore Napu bersaudara ini.

Bagaimana dengan keberadaan aparat keamanan (TNI/Polri) yang ditugaskan di dataan Napu dengan jumlah ratusan personil? Berkat memastikan keberadaan aparat belum banyak memberi dampak signifikan bagi kenyaman warga Napu untuk beraktifitas. Karena sepengetahuannya, keberadaan aparat di dataran Napu, khususnya Polisi hanya berada di dalam kampung. “Yang saya tahu Polisi ngeposnya dalam kampung. Dan belum ada informasi mereka masuk ke dalam hutan mencari itu sipil bersenjata yang terus meneror warga,” tukas mantan Camat Lore Utara ini.

“Karenanya warga takut ke kebun. Apalagi yang kebunnya berada jauh di pegunungan. Agar bisa tetap makan, sebagian warga pun memilih eksodus ke tempat yang aman untuk bekerja mencari nafkah,” tandas Berkat yang juga sebagai tokoh masyarakat Napu.

Disebut Berkat, situasi keamanan Napu terganggu dan tidak lagi kondusif terjadi sejak akhir Desember 2014 lalu, saat tiga warga Sedoa dinyatakan hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Kondisi ketidak-nyamanan warga makin diperparah pasca hilangnya dua warga Desa Tamadue yang satu diantaranya, Garataudu alias Papa Jemi (60), ditemukan tewas dalam hutan karena diduga dieksekusi kelompok sipil bersenjata  pada bulan yang sama (Desember 2014).

Tak sampai disitu, pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan kelompok sipil bersenjata terhadap tiga warga Desa Tangkura,  Heri Tubio alias Papa Ol (50),  Aditya Tetembu alias Papa Rine (60), dan Dolfi Moudi Alipa alias Tomi Alipa (22), pada awal Januari 2015, makin membuat warga was-was dan takut beraktifitas di kebun.(bud)

Sumber: radar Sulteng

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button