Prof Khairil Menjawab Fitnah

Munculnya opini di salah satu media online yang ditulis oleh Prof. Djayani Nurdin, salah satu calon Rektor yang pernah kalah dalam proses pemilihan Rektor periode 2019-2023 yang lalu. Opini tentang “Untad Gawat Darurat….” yang dimuat beberapa hari yang lalu pada sebuah media online telah memunculkan reaksi keras karena dianggap telah menyebar fitnah termasuk yang disuarakan oleh Anak Muda Tadulako (AMT). 

Melalui Taqyuddin Bakri SPd MPd yang mengawali jumpa pers menyebutkan keprihatinannya secara mendalam atas tidak berjalannya akal sehat oknum Dosen Untad yang tergabung dalam Kelompok Peduli Kampus (KPK). Oknum Dosen lanjut Takyuddin itu diantaranya Prof Djayani Nurdin, saudara Nur Sangadji dan kawan-kawan lainnya.

Atas opini yang ditulis oleh Prof. Djayani ini, akhirnya Prof. Khairil ikut angkat bicara. Professor muda dalam usia 42 tahun dari Program studi Ilmu Komunikasi ini merasa perlu meluruskan dan mengklarifikasi sejumlah tuduhan hingga berbau fitnah yang ditujukan padanya.

Secara eksklusif, wartawan media ini lalu menemui Prof. Khairil di ruang kerjanya, ruang Dekan Fisip Untad, jumat, 10/12. Begitu ramah dengan senyumnya yang khas lalu menyapa kami, “Mari…mari, silahkan masuk Dinda. Macam lama le te ketemu, hehehe….” Ungkap orang nomor satu di Fisip ini.

“Suka minum dingin ? Ada You.C, ada Bear Brand ? Tapi kalau cari yang hangat, nah itu yang susah, hahaha….”, canda alumnus UMY peraih cum laude ini. 

Sambil mempersilahkan kami duduk, peraih penghargaan Alumni Outstanding Award pada tahun 2020 lalu tersenyum dan dengan santai ia bertanya ke kami, “mesti mau konfirmasi tentang opini itu kan ? Hehehe….”

Akhirnya suasana santai penuh keakraban mewarnai sesi wawancara eksklusif kami di ruang kerja Alumni Program Doktoral Ilmu Komunikasi Padjadjaran Bandung. 

Wartawan: Prof, ada apa sebenarnya ini, ibarat kata tidak ada air tidak ada hujan, kenapa macam langsung banjir ini Prof ? Hehehe….Maksud saya, kenapa Prof seolah olah jadi “tranding topic” dalam opini yang ditulis oleh Prof. Djayani ? Jangan jangan ada udang di balik batu ini Prof ?
Prof. Khairil : Tidak selalu dibalik batu itu udang dinda, kadang ada juga ikan, hehehe….ungkapnya dengan canda.Begini dinda, tadinya saya tidak mau menghabiskan energi hanya untuk bahas yang begini. Rasanya ingin memilih diam dari banyaknya bicara. Sederhananya itu, kita tidak akan “PUTIH” dengan “MENGHITAMKAN” orang lain.
Jadi kita kasih mengalir saja, namanya juga bunga bunga hidup. Pastinya tidak semua orang suka ke kita begitu juga sebaliknya, ada saja yang bersimpati dan selalu mendukung juga mendoakan. Inilah hidup. Hukum kehidupan itu, ada saat kita sedih, ada saat kita senang.  Walau sejujurnya memang saya harus akui bahwa saya terusik atas opini yang ditulis oleh Prof. Djayani. Orang yang sudah cukup lama saya kenal. Saking saya kenalnya beliau ini, sampai saya ragu, betulkah yang menulis opini ini beliau. Macam ada rasa tidak percaya tapi ya sudahlah karena yang tertulis disitu penulisnya Prof. Djayani, saya paksa diri saya untuk coba percaya.

Wartawan: Maaf Prof, jadi Prof merasa tidak yakin bahwa ini ditulis oleh Prof. Djayani ?
Prof. Khairil: Ah sudahlah, tidak usah dibesarkan. Seiring waktu akan terbukti juga siapa sebenarnya dibalik tulisan ini. Kita tetap harus menggunakan asas praduga tak bersalah. Jangan sampai menimbulkan fitnah baru.

Wartawan:  Dalam opini yang ditulis oleh Prof. Djayani menyebutkan bahwa Prof tercatat telah menerbitkan artikel internasional predatoris sebanyak 10 judul, baik sebagai penulis pertama maupun penulis anggota. Tanggapan Prof
Prof. Khairil: Nah ini kenapa saya ragu bahwa artikel opini ini ditulis oleh seorang Prof. Djayani. Sekedar jadi catatan bahwa istilah predatoris itu sudah tidak digunakan lagi. Menarik tulisan Prof. Burhanuddin Sundu yang di share di salah satu grup WA, ia mengatakan begini “Kritik dan gugatan kemudian bermunculan baik dari pihak peneliti, jurnal maupun dari pihak publisher. Gugatan dan kritik itu tidak hanya ditujukan kepada Jeffrey Beall, tetapi juga ke Institusi dimana Jeffrey Beall bekerja. Kritik itu hadir dengan beragam argumentasi; mulai dari issue transparansi data yang diperoleh hingga terminology “predator” yang digunakan. Klimaks dari kritik dan gugatan itu adalah munculnya beberapa publisher yang siap menggugat Jeffrey Beall ke meja hijau dengan tuntutan milyaran dollar. Akhirnya, pada tanggal 17 Januari 2017 Blogspot Jeffery Beall ditutup secara resmi”
Prof. Burhanuddin juga menuliskan bahwa “Tidak jelas, apa yang melatari penutupan blogspot itu. Berbagai spekulasi muncul, mulai dari kekuatiran akan dimeja hijaukan hingga desakan dari pihak institusi dimana Jeffery Beall bermarkas. Seorang dosen dari Fapetkan Untad memberanikan diri mengirim email langsung ke Jeffery Beall beberapa hari setelah blogspot itu lenyap, untuk menanyakan alasan penutupan blogspotnya. Jawaban yang diterima adalah karena institusi dibombardir dengan desakan desakan dari berbagai publisher untuk menutup blogspot tersebut.”
Logikanya kalau Jeffery Beall saja sudah menutup blogspot tentang jurnal predator, lalu sumber data kita dari mana? Setahu saya pun kementerian sendiri sudah lama tidak memberikan informasi tentang data terbaru jurnal yang dikategorikan predator.

Wartawan: Berarti istilah jurnal predator itu sudah tidak digunakan lagi Prof?
Prof. Khairil: Dalam proses kenaikan pangkat, khususnya ketika artikel ilmiah pada jurnal international itu ditolak, maka salah satu alasannya adalah bahwa artikel saudara terbit di jurnal international yang “coverage discontinued in scopus”. Discontinue dalam penolakan sebuah artikel artinya jurnal itu tidak lagi terindeks scopus. Itu berarti bahwa jurnal ini diakui sebagai jurnal International tidak bereputasi. Artinya lagi bahwa artikel itu belum memenuhi syarat khusus dalam pengusulan jabatan Guru Besar.
Jadi mari kita tidak salah kaprah, gagal faham apa lagi merasa diri paling benar untuk menilai sebuah jurnal International. Terlebih lagi kalau artikel publikasi kita juga ternyata terbatas. Boleh dicek melalui https://sinta.kemdikbud.go.id/affiliations/detail?id=494&view=authors lalu saudara masukan nama Djayani Nurdin, maka saudara akan temukan bahwa Scopus H-Index “…”, Aah kurang etis rasanya saya menyebutkan angka H-Index beliau.
Sungguh tidak bermaksud membuka “aib” beliau dengan keterbatasan publikasi international yang ia miliki tapi lebih pada ingin membuktikan pada publik bahwa mari kita bercermin pada diri sendiri sebelum menghakimi orang lain. Jangan sampai kita “menjelma bagai hakim” (silahkan baca artikel opini saya melalui link: https://radarsulteng.id/menjelma-bagai-hakim).

Wartawan: Jadi Prof, kalau dengar penjelasan Prof, tidak ada masalah dong kalau terbit di jurnal yang tidak bereputasi ? Soalnya kalau baca opini Prof. Djayani ini macam jadi takut orang mau menulis.
Prof. Khairil: Memang tidak salah. Seperti halnya kalau kita punya artikel yang terbit di jurnal tidak terakreditasi, apa yang salah ?
Nah sekarang, saya kasih contoh. Saya punya artikel terbit di Jurnal Information, Jepang dengan judul Mass Media Coverage on Terrorism in Order to Achieve Peace and Justice According to the World Agenda of Sustainable Development Goals (SDGs) dengan ISSN: 1343-4500, eISSN: 1344-8994, Volume 20 No 7A 2017. Saat artikel ini terbit masih terindeks scopus namun saat pengusulan Guru Besar, jurnal ini discontinue. Pertanyaannya, apakah artikel saya salah terbit di Jurnal ini ? Apakah ketika jurnal information discontinue, itu saya yang salah ? Tidaklah bijak, andai kita menemukan satu kesalahan seolah semua menjadi salah. 
Jadi, simpulannya, penulis itu tidaklah hina, tidaklah salah apa lagi seolah olah harus dihukum hanya karena mereka punya jurnal tidak bereputasi. Ini sah sah saja. Apanya yang salah ? Kementerian saja mengakui artikel dalam jurnal International tidak bereputasi, terus mereka ini siapa dan punya kuasa apa menyalahkan jurnal kami yang sudah terbit ? 
Intinya, jurnal itu akan dinilai oleh tim angka kredit baik di tingkat Fakultas, Universitas hingga di Kementerian. Bukan dinilai di warung kopi Cs. Apa lagi penilian yang didasarkan pada hasil subjektivitas kelompok tertentu dengan maksud menjatuhkan orang lain.
Lebih miris dan ironis, bahkan ada rasa risih dan malu, andai yang seolah olah melakukan penilaian ini adalah orang yang mohon maaf “terbatas” artikel yang dipublikasi. Parahnya lagi, sudah lama tidak naik pangkat karena tidak punya artikel yang dipublikasi. Macam “nano nano rasa gado gado”. (Bercanda ya dek, biar tidak terlalu serius, hehehe….)

Wartawan: Jadi yang mereka persoalankan sebenarnya apa Prof ?
Prof. Khairil: Harusnya jangan tanya ke saya dinda, tanyalah Prof. Djayani.
Tapi kalau saya, banyak hal yang harusnya bisa lebih dipersoalkan. Semisal kita saling bantu dan dukung untuk bisa mendorong dosen dosen yang sudah lama belum naik pangkat. Kita petakan, lalu melakukan identifikasi ada apa belum naik pangkat dan kita dampingi bersama sehingga bisa naik pangkat. Ini akan sangat mempengaruhi dalam peningkatan reakreditasi institusi kita. Bagi saya inilah bentuk kepedulian kita terhadap kampus yang kita cintai bersama.
Mari untuk tidak dan terus saling menyalahkan. Energi kita kalau kita satukan bersama untuk membangun kampus ini akan jauh lebih bermanfaat. Banyak yang masih harus kita benahi di kampus ini. Mari kita jadi contoh dan teladan, harmoni andai pun kita harus berbeda perspektif dan pilihan.
Indahnya hidup ini andai kita bisa saling memberi manfaat. Damai rasanya saat ketemu lalu berbagi senyum bukan malah kebencian. Kita hidupkan atmosfir dialektika akademik dalam tutur santun yang sejuk. Sungguh sebuah anugerah andai kita bisa saling memudahkan orang lain, bukan malah bahagia diatas kesulitan orang lain. Semakin kita memudahkan orang lain maka yakinlah banyak hal yang akan memudahkan juga hidup kita. 

Wartawan: Maaf Prof, dalam opini Prof. Djayani juga menuliskan bahwa artikel berjudul: “Empirical Analysis on Cyberbullying in Social Media: A Case Study in Palu City,” yang diterbitkan di Journal of Engineering and Applied Sciences 13 (20): 8598-8603 melalui penerbit Medwell Journals 2018, telah menjiplak secara utuh dengan modus tidak akurat dalam pengutipan atas artikel Richard Donegan berjudul: “Bullying and Cyberbullying: History, Statistics, Law, Prevention and Analysis,” dalam The Elon Journal of Undergraduate Research in Communications Vol. 3, No. 1 Spring 2012, halaman 39-40. Bagaimana tanggapan Prof ? 
Prof. Khairil: Ini membuat saya semakin ragu bahwa opini ini ditulis oleh Prof. Djayani. Saya tidak paham andai ada orang yang gagal paham tentang makna yang sangat jelas dibalik bahasa TELAH MENJIPLAK SECARA UTUH. 
Kalau Prof. Djayani memahami artikel ini dengan baik, membaca dengan seksama, punya kemampuan bahasa yang baik maka ia akan menemukan satu paragraf yang saya kutip dari artikel Richard Donegan. Dalam artikel kutipan yang saya ambil itu “Donegan (2012) points out that the clinical repercussions that bullying and cyberbullying have on today’s youth present the most troubling issue at hand”. Semoga Prof. Djayani paham arti bahasa kutipan ini.
TELAH MENJIPLAK SECARA UTUH itu artinya saya mengambil semua isi artikel yang dituliskan Richard Donegan. Sementara mulai dari judul, abstrak, isi hingga kesimpulan itu sangat jauh berbeda. Bahwa saya mengutip sebagian dari artikel Richard Donegan sebagai bagian dari isi artikel saya dengan mencantumkan sumber kutipannya, maka itu namanya bukan plagiasi tapi sitasi.

Wartawan: Jadi tidak benar Prof ya TELAH MENJIPLAK SECARA UTUH artikel Richard Donegan ? 
Prof. Khairil: Saya jadi ingat dengan Bahasa bijak “sangat sulit meyakinkan lalat bahwa bunga itu lebih indah dari sampah”. Sangat sulit membuat orang percaya kalau hati dan pikirannya penuh dengan prasangka buruk, sakit hati, dendam dan akhirnya waktu itu terbuang seiring usia hanya untuk selalu mencari kesalahan orang lain. Silahkan saja orang menilai dan pada saatnya mutiara tetaplah mutiara.

Wartawan: Prof. Djayani juga menyebutkan dalam opininya bahwa “Dari kecenderungan pelibatan penulis asal UKM Malaysia tersebut beserta nama-nama penulis yang seringkali muncul, nampaknya berbagai artikel yang muncul dalam kategori terbitan predatoris adalah hasil kerja sama dan kolaborasi yang dilakukan melalui International Publication Center (IPCC) Untad dan FISIP Untad yang memang telah mengikat sebuah nota kesepakatan sejak tahun 2017”. Bagaimana tanggapan Prof ?
Prof. Khairil: Ini lebih tidak nyambung lagi. Beginilah kalau pengetahuan terbatas tapi seolah tahu semua. Dalam filsafat, karakter seperti ini dikenal dengan “manusia yang tidak tahu di tidak tahunya”. 
IPCC itu ada nanti setelah Pelantikan Prof. Mahfud menjadi Rektor di tahun 2019. Artinya ketika Prof. Djayani kalah dalam pemilihan Rektor pada tahun 2019, IPCC baru terbentuk di tahun yang sama. Jadi tidak betul bahwa ada nota kesepakatan FISIP dan IPCC di tahun 2017. Ini sebuah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.

Wartawan: Tentang siapa saja yang bisa masuk dalam tim penulisan sebuah artikel. Opini Prof. Djayani menuliskan bahwa “Meski demikian, seringkali ditemukan keganjilan, karena banyak artikel melibatkan penulis yang memiliki latar belakang disiplin keilmuan tidak sejalan atau tidak relevan dengan topik atau isu artikel”. Tanggapan Prof ?
Prof. Khairil: Kalau sesuatu itu kita tidak sukai, maka “kutu” yang melekat pada rambut kepala seseorang juga akan jadi persoalan. Pertanyaan saya, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulteng saja kan kalau tidak salah sarjana pertanian, jadi tidak boleh dia Ketua FKPT ? Ataukah hanya sarjana Agama yang bisa ceramah dan khutbah ? Apakah salah apabila sarjana pertanian bisa jadi wartawan ? Bahkan jauh lebih hebat dari sarjana komunikasi sekalipun. 
Kalau dipersoalkan kenapa melibatkan istri atau anak dalam artikel, apa masalahnya ? Kan sama sama dosen, sama sama mengemban Tri dharam Perguruan Tinggi. Disiplin ilmu yang berbeda itu akan memberikan pengayaan tersendiri terhadap khazanah keilmuan. 

Wartawan: Andai ada yang mempersoalkan kenapa artikel yang dipublikasikan itu dibiayai oleh Fakultas atau Universitas, tanggapan Prof ? 
Prof. Khairil: Kalau memang ada anggarannya dan dibenarkan dalam penganggaran lalu apa masalahnya ? Bisa nda sih hidup ini kita buat simpel dan mudah ? Kalau sedikit sedikit ini salah, itu salah, jangan jangan sampai pensiun sudah tidak naik pangkat kita.
Inilah susahnya kalau kita belum tahu teknis penganggaran tapi seolah olah “maha tahu” akhirnya cuma selalu bisa menyalahkan orang lain. Seolah olah orang yang dapat bantuan biaya publikasi itu salah. Padahal mereka tidak punya artikel untuk bisa dibiayai tapi mempersoalkan orang yang mendapat bantuan dana publikasi, ini yang ironis. Ibaratnya, “buruk muka, cermin dibelah”. 

Wartawan: Wah terakhir ini Prof, apa harapan Prof dengan semua kejadian ini ?
Prof. Khairil: Tentu kita semua berharap, tidak untuk saling menyalahkan apa lagi kalau hanya selalu mencari cari kesalahan orang lain, seolah kurang kerjaan. Harusnya kita sudah bisa menghasilkan artikel, tapi karena hanya mencari cari kesalahan dan hanya menuliskan kesalahan orang, malah kasian waktu dan umur akhirnya berlalu sia-sia hingga usia jelang pensiun.
Sebaliknya kita saling mendukung dan mendorong, membangun spirit kebersamaan untuk kita bisa seiring sejalan. Tidak untuk saling menyalahkan dan menyakiti, lebih pada kita saling mengingatkan untuk kebaikan bersama. (***)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button